Moskow dan Teheran berhasil dikendalikan lewat pendekatan diplomatik yang cermat, sementara proyek Kurdi Washington dinetralisir dengan tekanan militer berkelanjutan dan isolasi politik. Hasilnya, Turki nggak cuma amankan perbatasannya. Mereka bahkan berhasil membangun kekuatan pemerintahan yang punya legitimasi di dalam Suriah itu sendiri.
Kelompok-kelompok oposisi yang awalnya cuma milisi terpecah-pecah, setelah dilatih dan distruktur ulang oleh Ankara, tumbuh jadi otoritas politik-militer yang dominan. Ini pencapaian yang nggak main-main. Coba bandingkan dengan negara regional lain Iran, Israel, atau negara Teluk mana ada yang sukses mengubah proxy jadi inti kedaulatan di negara tetangga?
Dari kacamata strategis, Turki udah melakukan sesuatu yang unik di Levant. Mereka membentuk ulang sebuah negara yang runtuh, bukan lewat pendudukan atau aneksasi, tapi lewat pembangunan negara yang dikendalikan aktor lokal yang sejalan dengan kepentingan keamanan mereka. Intinya, Suriah sekarang bukan lagi ancaman, melainkan penyangga dan perpanjangan pengaruh Turki.
Yang bikin ini semua makin impresif adalah skalanya. Berhasil secara bersamaan melawan kepentingan Rusia, Iran, "dan" arsitektur regional AS? Itu menempatkan Turki dalam kategori sendiri. Mereka bukan cuma kekuatan regional yang main di Levant. Mereka udah jadi salah satu dari sedikit negara dalam sejarah modern yang mampu mendesain ulang tatanan politik di sekelilingnya, tanpa perlu jadi imperialis langsung.
Artikel Terkait
Ketika Otak Pemimpin Mulai Tak Bisa Menahan Ucapan
90 WNI Dievakuasi dari Pusat Scamming Myanmar, Akhirnya Pulang ke Tanah Air
Netanyahu Batal ke Davos, Dicekal Surat Penangkapan ICC
Noe Letto Buka Suara: Jadi Tenaga Ahli Kemhan untuk Eksperimen Transparansi