Kawasan Teluk kembali memanas. Dalam rentang dua hari terakhir, setidaknya lima kapal menjadi sasaran serangan, menambah daftar panjang insiden yang mengganggu jalur pelayaran vital ini.
Rabu lalu, tiga kapal pertama dilaporkan terkena serangan di sekitar Selat Hormuz. Kapal pengangkut curah berbendera Thailand, Mayuree Naree, jadi salah satu korban. Menurut laporan, kapal itu terkena dua proyektil misterius yang langsung memicu kobaran api dan merusak bagian mesinnya.
Tak jauh dari sana, kapal kontainer One Majesty yang mengibarkan bendera Jepang juga mengalami kerusakan akibat serangan serupa di perairan dekat Uni Emirat Arab. Sementara itu, kapal Star Gwyneth berbendera Kepulauan Marshall dilaporkan mengalami kerusakan lambung setelah insiden di dekat Dubai.
Namun begitu, gelombang serangan ternyata belum berhenti. Hanya berselang beberapa jam, dua kapal tanker lagi menjadi sasaran, kali ini di perairan Irak. Keduanya adalah Safesea Vishnu (bendera Kepulauan Marshall) dan Zefyros yang berbendera Malta.
Ini semua terjadi di tengah ketegangan yang terus membara. Perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel sepertinya jadi pemicu utama. Dan imbasnya langsung terasa di jalur laut ini.
Sejak konflik terbuka meletus pada akhir Februari, belasan kapal sudah kena serang. Iran sendiri diketahui memblokade Selat Hormuz jalur penting untuk perdagangan minyak global sambil menyerang sejumlah fasilitas energi di kawasan Teluk.
Dengan situasi seperti sekarang, ancaman terhadap kapal-kapal yang melintasi selat sempit itu diprediksi akan tetap tinggi. Keamanan pelayaran internasional, sekali lagi, di ujung tanduk.
Artikel Terkait
Bank Mandiri Cetak Sejarah, Jadi Bank RI Pertama yang Jadi Anggota Langsung Sistem Pembayaran RMB China
Jay Idzes Bela Beckham Putra Usai Dihujat Suporter: Dia Tetap Bagian dari Timnas Indonesia
PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk Targetkan Tol Kataraja Beroperasi Penuh Akhir 2026, Hubungkan Bandara Soetta-PIK 2
Dua Ganda Putri Indonesia Melaju ke Perempat Final Australian Open 2026