Dalam tempo kurang dari tiga hari, langit di atas rute menuju Iran ramai oleh armada udara militer Tiongkok. Sebanyak 16 pesawat kargo militer dikerahkan, menyelesaikan misi logistik besar-besaran hanya dalam 56 jam. Kecepatan dan skalanya bikin banyak pengamat terperangah. Bukan cuma soal kemampuan teknis, ini jelas sebuah sinyal politik yang keras. Bahwa Beijing kini punya kemampuan proyeksi kekuatan yang matang, dan tak segan menunjukkannya di panggung geopolitik yang sedang panas ini.
Laporan dari The Telegraph menyebut, andalan dalam operasi kilat ini adalah pesawat angkut strategis Y-20, yang dijuluki "Kunpeng". Monster logistik ini memang dirancang untuk hal semacam ini: mengangkut personel, perlengkapan, atau sistem senjata dalam jumlah besar, ke jarak yang jauh, dengan waktu yang singkat.
Nah, di sini halnya jadi menarik. Apa yang terjadi ini jelas bukan pengiriman logistik biasa. Menurut sejumlah analis, skala dan kecepatannya menandai eskalasi serius dalam kemitraan Beijing dan Tehran. Apalagi kita tahu, ketegangan di kawasan masih tinggi dan Iran masih terbebani oleh segudang sanksi Barat. Dalam konteks itu, langkah Tiongkok ini terasa seperti penegasan dukungan yang sangat nyata. Sebuah bentuk solidaritas yang konkret, bukan sekadar kata-kata di atas kertas.
“Ini lebih dari sekadar latihan logistik. Ini adalah ‘jembatan udara’ strategis yang sengaja dibangun untuk menunjukkan bahwa Tiongkok memiliki kemauan dan kapasitas untuk mendukung sekutunya, kapanpun dan dimanapun, meskipun harus menantang tekanan Barat,”
Begitu kata seorang analis geopolitik yang memilih untuk tidak disebutkan namanya.
Lalu, apakah ini akan menggeser keseimbangan kekuatan? Peta rute yang beredar menunjukkan pesawat-pesawat itu melintasi wilayah seperti Pakistan, dan diduga mendarat di sekitar Qa’en, di Provinsi Khorasan Selatan, Iran timur. Manuvernya sendiri sudah bicara banyak: Tiongkok kini bisa memproyeksikan kekuatan secara langsung ke jantung Timur Tengah. Sebuah kawasan yang, jujur saja, lama dianggap sebagai arena pengaruh Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya.
Artikel Terkait
Menguak Brainroot: Akar Pikiran yang Diam-diam Mengendalikan Produktivitas Anda
Sutoyo Abadi Ingatkan Prabowo: Jangan Sampai Cap Pengkhianat Melekat
Jebakan Starlink dan Runtuhnya Skema Agen Asing di Iran
Defyan Cori Kritik Wacana Ekspatriat Pimpin BUMN: Jangan Gadaikan Semangat Nasionalisme