Gelombang digitalisasi tak terbendung, dan kali ini, dampaknya terasa hingga ke ruang keluarga. Di Indonesia dan seluruh dunia, cara keluarga berinteraksi tampaknya akan berubah total dalam sepuluh tahun ke depan. Setidaknya, itulah yang dirasakan oleh kebanyakan orang menurut sebuah survei global dari Kaspersky. Angkanya cukup mencengangkan: 81% responden percaya bahwa digitalisasi akan mengubah fundamental aktivitas kebersamaan keluarga.
Lalu, seperti apa wajah perubahan itu? Teknologi canggih bakal merambah ke hal-hal yang paling personal. Coba bayangkan, hampir separuh responden global membayangkan dongeng pengantar tidur anak akan dibacakan oleh AI. Di Indonesia, imajinasi ini bahkan lebih kuat, dengan 58% keluarga melihatnya sebagai kebiasaan baru. Tidak hanya itu, sekitar sepertiga keluarga di Tanah Air memprediksi anak-anak mereka nanti lebih memilih peliharaan digital ketimbang anjing atau kucing sungguhan.
Namun begitu, perubahan tak berhenti di situ. Perayaan keluarga pun ikut berubah. Hampir setengah responden di Indonesia (49%) memperkirakan kumpul keluarga bakal lebih sering lewat panggilan video. Yang lebih futuristik lagi, ada 26% orang yang membayangkan bisa berlibur bersama keluarga sepenuhnya di dunia virtual. Robot rumah tangga pun diprediksi bakal jadi “anggota keluarga” baru, dengan 43% responden membayangkan kehadiran pendamping AI yang bisa membimbing dan menemani.
Di sisi lain, Kaspersky mengingatkan, kemudahan ini datang dengan risikonya sendiri. Setiap perangkat baru yang masuk ke rumah entah itu headset VR atau robot pengasuh bisa jadi pintu masuk bagi pihak yang tidak bertanggung jawab. Lanskap digital rumah tangga, kata mereka, menghadirkan “vektor risiko baru” yang harus diwaspadai.
Lantas, bagaimana kita menyikapinya? Beberapa langkah proaktif bisa diambil oleh orang tua.
Pertama, pilih layanan AI dengan bijak. Pastikan platform yang digunakan punya kebijakan privasi kuat dan tidak menyalahgunakan data, terutama interaksi suara anak.
Kedua, perlakukan interaksi AI seperti taman bermain digital baru. Gunakan kontrol orang tua untuk membatasi durasi, pilih platform cerita yang terverifikasi, dan yang terpenting, jaga komunikasi terbuka dengan anak.
“Penting untuk menjelaskan pada anak bahwa AI itu alat, bukan teman,” begitu kira-kira saran dari riset itu. Anak perlu didorong untuk melaporkan interaksi yang terasa aneh atau tidak nyaman. Intinya, AI harus melengkapi, bukan menggantikan, kehangatan interaksi manusia terutama suara dan pelukan orang tua.
Terakhir, amankan perangkat rumah pintar. Ganti kata sandi default, update firmware secara berkala, dan pisahkan jaringan. Untuk pengawasan ekstra, mereka merekomendasikan alat pemindai jaringan Wi-Fi yang berjalan 24/7.
Pada akhirnya, kesimpulannya cukup menyejukkan. Laju teknologi yang cepat ini bukan untuk memecah belah, melainkan mendefinisikan ulang arti kebersamaan. Masa depan keluarga terletak pada perpaduan yang cerdas antara pengalaman digital dan fisik. Tentu saja, dengan keamanan sebagai fondasi yang tak boleh kita lupakan.
Artikel Terkait
Gunung Semeru Erupsi, Kolom Abu Membumbung 2.000 Meter dan Awan Panas Luncur ke Tenggara
Pengusaha UMKM di Jakarta Utara Banting Setir dari Bisnis Busana Bayi ke Kuliner Gluten Free, Raup Omzet hingga Rp15 Juta per Bulan
Polres Jakbar Amankan Sajam dalam Patroli Dini Hari di Sebelas Titik Rawan
Api Kembali Menyala di Lokasi Kebakaran Tambora, Damkar Kerahkan 8 Mobil Pemadam