Berita ini cukup mengguncang: Moody's Ratings baru saja mengubah pandangan mereka terhadap sejumlah raksasa korporasi Indonesia. Outlooknya dipotong jadi negatif. Aksi ini, tentu saja, tak lepas dari keputusan mereka pekan lalu yang juga menurunkan outlook kredit Pemerintah Indonesia dari "stabil" menjadi "negatif", meski peringkat utangnya masih bertahan di Baa2.
Nah, efeknya langsung merembet ke banyak sektor. Untuk korporasi non-keuangan, setidaknya tujuh perusahaan besar yang kena imbas. Daftarnya mencakup nama-nama besar seperti Telkom Indonesia dan anak perusahaannya Telkomsel, lalu Pertamina beserta Pertamina Hulu, MIND ID, Indofood CBP Sukses Makmur, dan United Tractors. Mereka semua dapat revisi outlook negatif dari Moody's.
Tak cuma itu. Lembaga pembiayaan dan BUMN infrastruktur juga kecipratan. Astra Sedaya Finance, Federal International Finance, LPEI, dan Sarana Multi Infrastruktur (SMI) outlooknya berubah jadi negatif. Perusahaan listrik negara, PLN, juga dapat perlakuan serupa. Jadi, jangkauannya luas sekali.
Di sisi lain, sektor perbankan pun tak luput. Lima bank pelat merah dan swasta terbesar ikut dapat "stempel" negatif. Menurut laporan Reuters, bank-bank itu adalah Bank Mandiri, BRI, BNI, BCA, dan Bank Tabungan Negara. Meski begitu, peringkat kredit masing-masing bank itu sendiri belum diturunkan. Ini murni soal perubahan pandangan ke depan.
Lantas, apa pemicu utamanya? Moody's menyoroti kekhawatiran yang meningkat soal prediktabilitas kebijakan pemerintah. Menurut analis mereka, pemerintah memang sedang fokus mendorong pertumbuhan dan kesejahteraan lewat belanja sosial yang lebih agresif. Namun begitu, langkah ini dianggap berisiko membebani kondisi fiskal, apalagi dengan basis penerimaan pajak yang masih dianggap belum kuat.
Yang juga jadi sorotan adalah konsistensi kebijakan yang dianggap mulai berkurang. Hal ini, kata Moody's, berpotensi mengikis kepercayaan investor. Gejalanya sudah kelihatan di pasar: volatilitas saham dan nilai tukar rupiah yang meningkat. Jika dibiarkan, kredibilitas kebijakan yang selama ini jadi penopang stabilitas ekonomi bisa tergerus.
Perubahan outlook Moody's ini datang di waktu yang sensitif. Baru-baru ini, MSCI Inc. juga sudah mengeluarkan peringatan tentang persoalan investabilitas di pasar modal kita, bahkan membuka opsi untuk menurunkan status pasar. Peringatan MSCI itu sempat memicu kepanikan. IHSG anjlok dalam-dalam sampai-sampai trading halt diberlakukan dua hari berturut-turut akhir Januari lalu. Pasar memang sudah mulai stabil, tapi gejolaknya masih terasa.
Menanggapi semua ini, pemerintah lewat Kementerian Keuangan mencoba menenangkan. Mereka menegaskan bahwa agenda transformasi ekonomi akan terus berjalan. Namun, segala risikonya akan dikelola dengan sangat hati-hati.
Pemerintah bersama Bank Indonesia juga mengulang komitmen untuk menjaga stabilitas. Mulai dari harga, nilai tukar, hingga pasar keuangan secara keseluruhan. Mereka berusaha meyakinkan bahwa situasi masih dalam kendali.
Tapi, di tengah ketidakpastian global yang masih membayang, langkah Moody's ini jelas jadi pengingat yang keras. Semua mata sekarang tertuju pada langkah konkret berikutnya dari para pengambil kebijakan.
Artikel Terkait
IHSG Terkoreksi 2,08%, Mayoritas Sektor Berada di Zona Merah
OJK Targetkan Dana Masuk Pasar Modal Capai Rp250 Triliun pada 2026
IHSG Anjlok 2,83%, Seluruh Sektor Terkena Tekanan Jual
Pemerintah Godok Dua Opsi Skema Demutualisasi Bursa Efek Indonesia