MURIANETWORK.COM - Pemerintah tengah mematangkan dua opsi skema untuk mendemutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI), sebuah langkah strategis untuk meningkatkan transparansi dan integritas pasar modal. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan, kedua skema itu adalah penawaran saham perdana (IPO) atau penempatan privat (private placement). Aturan pelaksanaannya akan diatur dalam Peraturan Pemerintah yang sedang ditunggu penerbitannya.
Dua Opsi Skema yang Digodok
Dalam paparannya, Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa proses transformasi kepemilikan bursa ini dapat dilakukan secara bertahap. Opsi pertama adalah melalui penempatan privat, di mana saham baru atau instrumen berharga lainnya ditawarkan langsung kepada investor tertentu. Alternatif kedua adalah membawa BEI ke publik melalui mekanisme Initial Public Offering (IPO).
Menurutnya, pilihan teknis antara kedua skema tersebut masih akan dibahas lebih lanjut. Langkah ini bukan sekadar perubahan struktur kepemilikan, melainkan bagian dari upaya lebih besar untuk mereformasi sektor keuangan, khususnya pasar modal, sesuai dengan arahan Presiden.
"Demutualisasi Bursa ini bisa dua tahap, satu dengan private placement, yang kedua bisa dengan IPO. Nanti itu bisa secara teknis dibahas," jelas Airlangga dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis malam (5/2/2026).
Mendorong Reformasi dan Kepercayaan Pasar
Di balik wacana teknis tersebut, tujuan utama demutualisasi adalah mendorong pertumbuhan industri keuangan nasional yang lebih sehat. Airlangga berharap agenda ini dapat menarik lebih banyak aliran dana asing ke dalam pasar modal Indonesia. Dengan struktur kepemilikan yang lebih terbuka dan profesional, diharapkan kepercayaan investor serta daya saing bursa dapat meningkat signifikan.
Artikel Terkait
Gubernur Fed Stephen Miran Desak Pemotongan Suku Bunga Lebih Agresif Dukung Pasar Tenaga Kerja
Wall Street Menguat Didorong Pernyataan Trump Soal Iran, Teheran Bantah Klaim Kontak
TOWR Catat Laba Bersih Rp3,68 Triliun di 2025, Tumbuh 10,3%
Tiga Emiten Siap Bagikan Dividen Tunai Rp13,17 Triliun pada April 2026