Harga Minyak Melonjak setelah AS Serang Target Iran di Selat Hormuz

- Jumat, 08 Mei 2026 | 07:35 WIB
Harga Minyak Melonjak setelah AS Serang Target Iran di Selat Hormuz

Harga minyak mentah dunia kembali melonjak pada Kamis (8/5/2026) setelah laporan media mengonfirmasi bahwa militer Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap sasaran-sasaran Iran di sekitar Selat Hormuz. Peristiwa ini membalikkan tren penurunan harga yang sempat terjadi di awal sesi perdagangan.

Pada awal hari, harga minyak justru melemah akibat sinyal yang saling bertentangan dari Teheran terkait proposal perdamaian baru dan upaya Iran untuk memperketat kendali atas jalur pelayaran strategis tersebut. Namun, sentimen berbalik setelah muncul laporan bahwa Washington tengah mempertimbangkan untuk kembali mengawal kapal-kapal niaga yang melintasi selat itu.

Ketegangan mencapai puncaknya menjelang penutupan bursa Wall Street. Media pemerintah Iran melaporkan bahwa Amerika Serikat telah menyerang sebuah kapal tanker minyak milik Iran. Menurut Fox News yang mengutip seorang pejabat senior AS, serangan itu terjadi di pelabuhan Qeshm dan kota Bandar Abbas, dua lokasi yang berada di dalam maupun dekat Selat Hormuz. Pejabat tersebut menegaskan bahwa aksi ini bukanlah dimulainya kembali perang secara penuh.

Berita utama dari Fox News itu langsung mendorong harga kedua kontrak minyak utama ke zona positif. Harga minyak mentah Brent berjangka untuk pengiriman Juli, yang menjadi patokan global, ditutup naik 1,2 persen menjadi 102,48 dolar AS per barel. Sebelumnya, Brent sempat terperosok hingga 5,1 persen ke level terendah sesi di 96,10 dolar AS per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Juni melonjak 2,8 persen menjadi 97,75 dolar AS per barel.

Lonjakan ini terjadi sehari setelah kedua kontrak minyak ambles lebih dari 7 persen pada Rabu. Saat itu, pasar diyakinkan oleh laporan bahwa Washington dan Teheran semakin mendekati kesepakatan yang dapat meredakan ketegangan dan berpotensi membuka kembali aliran minyak melalui Selat Hormuz yang selama ini terganggu.

Iran dikabarkan tengah mengkaji proposal baru dari AS untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung lebih dari dua bulan. Langkah ini berlangsung di tengah ancaman Presiden Donald Trump yang masih akan melancarkan serangan jika kesepakatan tidak tercapai. Baik AS maupun Iran disebut telah bekerja sama dengan mediator untuk menyusun kerangka kerja satu halaman guna memulai kembali perundingan damai. Menurut laporan Wall Street Journal, diskusi awal diperkirakan akan digelar di Pakistan pada pekan depan.

Proses negosiasi selama sebulan ke depan rencananya akan difokuskan pada penyelesaian sengketa terkait ambisi nuklir Iran serta pencabutan sanksi. Meski demikian, masih terdapat perbedaan pandangan yang signifikan, terutama soal pengayaan nuklir dan mekanisme inspeksi.

Di sisi lain, sikap Iran masih menunjukkan sinyal yang beragam. Media pemerintah Iran menyatakan bahwa Teheran masih meninjau proposal AS dan belum mencapai kesimpulan, seperti dikutip dari juru bicara Kementerian Luar Negeri, Esmaeil Baqaei. Namun, laporan media lain mengutip seorang pejabat Iran yang menyebut rencana perdamaian AS sebagai sekadar daftar keinginan Amerika. Menurut CNN, Iran dijadwalkan memberikan tanggapan resmi mereka kepada para mediator pada Kamis.

Pasar minyak dunia sangat sensitif terhadap setiap perkembangan di Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak global. Selat ini praktis ditutup oleh Iran sejak konflik pecah pada akhir Februari, menyebabkan gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah.

CNN juga melaporkan bahwa Iran telah menetapkan protokol baru bagi kapal tanker yang hendak melintasi selat tersebut. Setiap kapal diwajibkan mengisi dokumen berjudul "Deklarasi Informasi Kapal" yang telah diverifikasi oleh CNN. Jika tidak dipenuhi, kapal-kapal tersebut disebut berisiko diserang. Sementara itu, Wall Street Journal mengutip pernyataan pejabat senior Iran, Mohsen Rezaei, yang menegaskan bahwa Teheran tidak akan mengizinkan AS membuka kembali selat itu dengan "rencana yang tidak realistis" dan kemudian keluar dari perang tanpa membayar ganti rugi atas semua kerusakan yang ditimbulkan pada Iran.

Pada awal pekan ini, AS sempat menghentikan sementara operasi yang disebut Project Freedom, sebuah inisiatif untuk membantu kapal-kapal niaga melintasi selat dengan aman. Namun, Wall Street Journal melaporkan bahwa Arab Saudi dan Kuwait telah mencabut pembatasan penggunaan pangkalan dan wilayah udara mereka oleh militer AS. Langkah ini membuka jalan bagi pemerintahan Trump untuk memulai kembali Project Freedom.

"Kesepakatan yang memulihkan lalu lintas melalui Hormuz akan mengurangi premi risiko pasokan, tetapi penundaan atau kemunduran dalam pembicaraan dapat dengan cepat memberikan tekanan ke atas kembali pada harga minyak dan gas," ujar analis dari ING dalam sebuah catatan.

Beberapa menit sebelum penutupan perdagangan reguler di Wall Street, media pemerintah Iran melaporkan bahwa tentara AS telah menyerang sebuah kapal tanker minyak Iran. "Setelah serangan itu, unit-unit musuh di Selat Hormuz dihujani tembakan rudal Iran, dan setelah mengalami kerusakan, terpaksa melarikan diri," demikian pernyataan media pemerintah Iran.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar