Guru dan Risalah Kenabian: Menjaga Nyala Peradaban dari Ruang Kelas

- Kamis, 22 Januari 2026 | 05:06 WIB
Guru dan Risalah Kenabian: Menjaga Nyala Peradaban dari Ruang Kelas

Mereka menjalani ini bukan semata karena gaji. Tapi karena sadar, mendidik adalah amal jariyah. Pahalanya mengalir terus.

Dalam peran mulia ini, guru sejatinya sedang meneladani sifat-sifat Rasulullah. Kejujuran (shiddiq) jadi fondasi utama. Rasulullah bersabda: “Hendaklah kalian berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga” (HR. Bukhari dan Muslim). Guru yang jujur dalam perkataan dan perbuatan sedang menanamkan integritas.

Amanah terlihat dari cara guru menjaga tanggung jawabnya. Ia malu kalau bolos, atau masuk kelas tanpa persiapan maksimal. Sebab tugasnya adalah amanah, seperti peringatan Allah dalam QS. An-Nisā’: 58. Bukan sekadar urusan administratif, tapi sesuatu yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya.

Sifat tabligh tampak dari kesungguhan menyampaikan ilmu. Seluruh pendekatan dikerahkan untuk menemukan cara yang efektif dan penuh hikmah bagi anak didik. “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik” (QS. An-Nahl: 125). Dengan tutur santun dan pendekatan humanis, guru sedang berdakwah dalam dunia pendidikan.

Sedangkan fathanah hadir dalam upaya guru untuk terus belajar. Rasulullah SAW menjanjikan kemudahan jalan ke surga bagi pencari ilmu (HR. Muslim). Guru yang tak berhenti meningkatkan kompetensi, ia sedang menempuh jalan kemuliaan itu.

Pada akhirnya, guru tak cuma mengajarkan apa yang tertulis di buku. Ia memperlihatkan bagaimana hidup dijalani. “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia,” sabda Rasulullah (HR. Ahmad). Menjadi guru berarti siap menjadi cermin. Setiap sikap diamati, setiap kata direkam, setiap perilaku berpotensi ditiru.

Karena itu, keteladanan bukan pilihan. Ia keharusan. Rasulullah adalah teladan terbaik, “Sungguh, pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagimu” (QS. Al-Ahzab: 21).

Guru adalah pelayan peradaban. Mungkin tak kaya harta, tapi kaya pahala dan makna. Mungkin tak selalu dihargai hari ini, tapi jasanya hidup dalam masa depan generasi. Selama ia mendidik dengan ikhlas dan meneladani nilai-nilai kenabian, ia sedang menanam amal yang tak akan terputus.

Jadi, jika hari ini kita masih menemukan guru yang sabar mengajar di tengah keterbatasan, yang mendidik dengan hati di sistem yang kerap tak ramah, dan tetap tegak saat penghargaan terasa jauh, sesungguhnya kita sedang menyaksikan langsung kesinambungan risalah kenabian itu.

Merekalah penjaga nyala peradaban yang paling sunyi, sekaligus paling menentukan. Selama masih ada guru yang setia menanam nilai, kejujuran, dan akhlak, selama itu pula harapan bangsa tak pernah benar-benar padam.

Karena percayalah, peradaban besar tak lahir dari gedung sekolah yang megah atau kurikulum sempurna. Ia lahir dari ketulusan seorang guru yang memilih mengajar dengan iman, ilmu, dan keteladanan.


Halaman:

Komentar