Guru dan Risalah Kenabian: Menjaga Nyala Peradaban dari Ruang Kelas

- Kamis, 22 Januari 2026 | 05:06 WIB
Guru dan Risalah Kenabian: Menjaga Nyala Peradaban dari Ruang Kelas

Tidak ada maha guru bagi umat Islam selain Nabi Muhammad SAW. Titik. Beliau adalah teladan utama, pendidik sejati yang mengajar bukan cuma dengan kata-kata, melainkan dengan seluruh kehidupannya. Bahkan jauh sebelum diangkat menjadi Nabi, integritasnya sudah jadi buah bibir. Julukan Al-Amin, si terpercaya, melekat padanya bukan tanpa alasan.

Perannya sebagai pendidik pun diabadikan dalam Al-Qur'an. Coba simak QS. Al-Jumu'ah ayat 2.

Intinya jelas: mengajar, menyucikan, membimbing akhlak. Itulah jantung dari pendidikan yang beliau praktikkan. Caranya? Penuh kesabaran. Beliau mengajar sesuai kemampuan muridnya, tak pernah merendahkan yang lambat paham, apalagi memarahi yang keliru. Sebuah keseimbangan yang pas antara cinta dan ketegasan.

Beliau sendiri yang menegaskan misinya.

Nah, guru zaman sekarang memang tak hidup di padang pasir abad ketujuh. Tapi nilai yang dibawa, itu lho, sebenarnya sama saja: membangun karakter lewat keteladanan. Selama seorang guru masih mengajar dengan hati, sesungguhnya ia sedang melanjutkan risalah besar sang Nabi. Ia adalah guru bagi umat manusia.

Memang, tidak semua pahlawan bertempur di medan perang. Ada yang memilih medan sunyi ruang kelas yang sederhana untuk anak-anak yang menantikan masa depan. Ambil contoh Ki Hajar Dewantara. Gara-gara keyakinannya bahwa pendidikan harus membebaskan, ia dibuang ke pengasingan oleh pemerintah kolonial.

Ia tak bawa senjata, tak pimpin pasukan. Tapi gagasannya justru mengguncang kekuasaan. Dari seorang guru lah lahir kesadaran: kemerdekaan sejati berawal dari pikiran yang merdeka.

Lalu ada KH. Ahmad Dahlan. Jalan yang ditempuhnya juga tak mudah. Dicaci, dituduh sesat, bahkan dijauhi karena berani mengubah cara mengajar agama dengan pendekatan yang lebih rasional. Tapi ia tetap berdiri di depan murid-muridnya, meyakinkan bahwa iman dan ilmu harus berjalan beriringan.

Mereka berani bukan karena situasi mendukung. Mereka berani karena keyakinan tak memberi pilihan lain untuk berhenti.

Pertanyaan yang kemudian mengusik: mengapa profesi yang melahirkan peradaban ini seringkali justru ditempatkan di pinggir? Guru sejak awal adalah profesi non-profit. Bukan untuk mengejar keuntungan materi, tapi untuk mengabdi pada kemanusiaan. Di tangan guru, ilmu tak cuma ditransfer, tapi ditanam dengan keikhlasan. Pelayanan adalah ruhnya.

Islam pun memuliakannya. Sebagaimana firman Allah: “Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat” (QS. Al-Mujādilah: 11).

Realitanya? Di balik gaji yang sering tak sebanding, meski berkualifikasi sarjana hingga doktor, guru dituntut tampil sempurna. Harus sabar saat lelah, tersenyum saat kecewa, tetap tegak saat dihimpit masalah. Kesabaran ini bukan hal sepele. Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar” (QS. Al-Baqarah: 153).


Halaman:

Komentar