Tidak ada maha guru bagi umat Islam selain Nabi Muhammad SAW. Titik. Beliau adalah teladan utama, pendidik sejati yang mengajar bukan cuma dengan kata-kata, melainkan dengan seluruh kehidupannya. Bahkan jauh sebelum diangkat menjadi Nabi, integritasnya sudah jadi buah bibir. Julukan Al-Amin, si terpercaya, melekat padanya bukan tanpa alasan.
Perannya sebagai pendidik pun diabadikan dalam Al-Qur'an. Coba simak QS. Al-Jumu'ah ayat 2.
“Dialah yang mengutus kepada kaum yang ummi seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah, meskipun sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata”.
Intinya jelas: mengajar, menyucikan, membimbing akhlak. Itulah jantung dari pendidikan yang beliau praktikkan. Caranya? Penuh kesabaran. Beliau mengajar sesuai kemampuan muridnya, tak pernah merendahkan yang lambat paham, apalagi memarahi yang keliru. Sebuah keseimbangan yang pas antara cinta dan ketegasan.
Beliau sendiri yang menegaskan misinya.
Dari Jabir bin Abdillah telah berkata: “Sesungguhnya Allah tidak mengutusku sebagai orang yang mempersulit dan tidak pula memberatkan, tetapi Dia mengutusku sebagai (pendidik) yang memudahkan.” (HR. Muslim)
Nah, guru zaman sekarang memang tak hidup di padang pasir abad ketujuh. Tapi nilai yang dibawa, itu lho, sebenarnya sama saja: membangun karakter lewat keteladanan. Selama seorang guru masih mengajar dengan hati, sesungguhnya ia sedang melanjutkan risalah besar sang Nabi. Ia adalah guru bagi umat manusia.
Memang, tidak semua pahlawan bertempur di medan perang. Ada yang memilih medan sunyi ruang kelas yang sederhana untuk anak-anak yang menantikan masa depan. Ambil contoh Ki Hajar Dewantara. Gara-gara keyakinannya bahwa pendidikan harus membebaskan, ia dibuang ke pengasingan oleh pemerintah kolonial.
Ia tak bawa senjata, tak pimpin pasukan. Tapi gagasannya justru mengguncang kekuasaan. Dari seorang guru lah lahir kesadaran: kemerdekaan sejati berawal dari pikiran yang merdeka.
Lalu ada KH. Ahmad Dahlan. Jalan yang ditempuhnya juga tak mudah. Dicaci, dituduh sesat, bahkan dijauhi karena berani mengubah cara mengajar agama dengan pendekatan yang lebih rasional. Tapi ia tetap berdiri di depan murid-muridnya, meyakinkan bahwa iman dan ilmu harus berjalan beriringan.
Mereka berani bukan karena situasi mendukung. Mereka berani karena keyakinan tak memberi pilihan lain untuk berhenti.
Pertanyaan yang kemudian mengusik: mengapa profesi yang melahirkan peradaban ini seringkali justru ditempatkan di pinggir? Guru sejak awal adalah profesi non-profit. Bukan untuk mengejar keuntungan materi, tapi untuk mengabdi pada kemanusiaan. Di tangan guru, ilmu tak cuma ditransfer, tapi ditanam dengan keikhlasan. Pelayanan adalah ruhnya.
Islam pun memuliakannya. Sebagaimana firman Allah: “Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat” (QS. Al-Mujādilah: 11).
Realitanya? Di balik gaji yang sering tak sebanding, meski berkualifikasi sarjana hingga doktor, guru dituntut tampil sempurna. Harus sabar saat lelah, tersenyum saat kecewa, tetap tegak saat dihimpit masalah. Kesabaran ini bukan hal sepele. Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar” (QS. Al-Baqarah: 153).
Mereka menjalani ini bukan semata karena gaji. Tapi karena sadar, mendidik adalah amal jariyah. Pahalanya mengalir terus.
Dalam peran mulia ini, guru sejatinya sedang meneladani sifat-sifat Rasulullah. Kejujuran (shiddiq) jadi fondasi utama. Rasulullah bersabda: “Hendaklah kalian berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga” (HR. Bukhari dan Muslim). Guru yang jujur dalam perkataan dan perbuatan sedang menanamkan integritas.
Amanah terlihat dari cara guru menjaga tanggung jawabnya. Ia malu kalau bolos, atau masuk kelas tanpa persiapan maksimal. Sebab tugasnya adalah amanah, seperti peringatan Allah dalam QS. An-Nisā’: 58. Bukan sekadar urusan administratif, tapi sesuatu yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya.
Sifat tabligh tampak dari kesungguhan menyampaikan ilmu. Seluruh pendekatan dikerahkan untuk menemukan cara yang efektif dan penuh hikmah bagi anak didik. “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik” (QS. An-Nahl: 125). Dengan tutur santun dan pendekatan humanis, guru sedang berdakwah dalam dunia pendidikan.
Sedangkan fathanah hadir dalam upaya guru untuk terus belajar. Rasulullah SAW menjanjikan kemudahan jalan ke surga bagi pencari ilmu (HR. Muslim). Guru yang tak berhenti meningkatkan kompetensi, ia sedang menempuh jalan kemuliaan itu.
Pada akhirnya, guru tak cuma mengajarkan apa yang tertulis di buku. Ia memperlihatkan bagaimana hidup dijalani. “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia,” sabda Rasulullah (HR. Ahmad). Menjadi guru berarti siap menjadi cermin. Setiap sikap diamati, setiap kata direkam, setiap perilaku berpotensi ditiru.
Karena itu, keteladanan bukan pilihan. Ia keharusan. Rasulullah adalah teladan terbaik, “Sungguh, pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagimu” (QS. Al-Ahzab: 21).
Guru adalah pelayan peradaban. Mungkin tak kaya harta, tapi kaya pahala dan makna. Mungkin tak selalu dihargai hari ini, tapi jasanya hidup dalam masa depan generasi. Selama ia mendidik dengan ikhlas dan meneladani nilai-nilai kenabian, ia sedang menanam amal yang tak akan terputus.
Jadi, jika hari ini kita masih menemukan guru yang sabar mengajar di tengah keterbatasan, yang mendidik dengan hati di sistem yang kerap tak ramah, dan tetap tegak saat penghargaan terasa jauh, sesungguhnya kita sedang menyaksikan langsung kesinambungan risalah kenabian itu.
Merekalah penjaga nyala peradaban yang paling sunyi, sekaligus paling menentukan. Selama masih ada guru yang setia menanam nilai, kejujuran, dan akhlak, selama itu pula harapan bangsa tak pernah benar-benar padam.
Karena percayalah, peradaban besar tak lahir dari gedung sekolah yang megah atau kurikulum sempurna. Ia lahir dari ketulusan seorang guru yang memilih mengajar dengan iman, ilmu, dan keteladanan.
Artikel Terkait
Harga Minyak Goreng Meroket, INDEF Ungkap Lonjakan Biaya Plastik Kemasan Ikut Jadi Pemicu
Dudung Abdurachman Dilantik sebagai Kepala Staf Kepresidenan, Siap Buka Kanal Aduan 24 Jam dan Pangkas Birokrasi
Polisi Kerahkan 1.200 Personel Amankan Peringatan May Day di Makassar
Mahfud MD: Kritik Inflasi Pengamat Tak Tepat, Justru Inflasi Pejabat yang Perlu Dibahas