Bahasa Minang di Negeri Sembilan: Simbol yang Bertahan, Penutur yang Menyusut

- Selasa, 20 Januari 2026 | 06:06 WIB
Bahasa Minang di Negeri Sembilan: Simbol yang Bertahan, Penutur yang Menyusut

Gejala ini paling kentara pada generasi muda. Kalau generasi tua masih lancar berbahasa Minang, anak-anak muda banyak yang cuma paham saat mendengar. Bahkan, tak sedikit yang sama sekali tidak bisa.

Penyebabnya berpangkal dari rumah. Bahasa Minang jarang lagi jadi bahasa pengantar utama dalam keluarga, sehingga proses alih bahasa antar generasi terputus. Bahasa yang dulu hidup dalam berbagai percakapan kini menyempit. Kehadirannya lebih sering terasa dalam upacara adat atau sebagai simbol, bukan lagi dalam obrolan santai di warung kopi.

Penurunan penggunaan seperti ini adalah alarm peringatan. Bahasa yang kehilangan penutur aktif dan ruang pakainya, lambat laun akan tergeser dan ditinggalkan.

Jika dibiarkan, dalam jangka panjang bahasa Minang di Negeri Sembilan mungkin akan bertahan sebagai identitas simbolik belaka. Ia akan kehilangan denyutnya sebagai bahasa hidup, kecuali ada upaya nyata untuk mempertahankannya.

Tapi, situasinya tidak perlu dilihat dengan pesimis. Mempertahankan bahasa bukan berarti menolak perubahan sama sekali, melainkan mengelola perubahan itu dengan cermat.

Keluarga memegang peran sentral. Saat orang tua kembali aktif menggunakan bahasa Minang dengan anak-anaknya di rumah, proses pewarisan akan berjalan secara alami.

Selain itu, institusi adat dan perkumpulan komunitas bisa jadi penyangga yang kuat. Acara adat, pertemuan warga, atau pagelaran seni harus jadi ruang hidup bagi bahasa, bukan sekadar panggung seremoni.

Di era digital seperti sekarang, peluang baru juga terbuka. Bahasa Minang bisa hidup lewat media sosial, podcast, konten video, dan berbagai platform daring yang akrab dengan keseharian anak muda.

Pada akhirnya, masa depan bahasa Minang di Negeri Sembilan bergantung pada pilihan kolektif penuturnya. Apakah bahasa ini akan terus bernapas dalam kehidupan sehari-hari, atau pelan-pelan memudar, hanya menjadi catatan kaki dalam sejarah budaya?

Pertanyaan ini bukan cuma penting bagi warga Minang di rantau. Jawabannya juga berarti bagi kita semua yang peduli pada kelangsungan keragaman bahasa dan identitas budaya di Nusantara.


Halaman:

Komentar