Asap masih mengepul di Manama. Pemerintah Bahrain baru saja mengumumkan, dua hotel dan sebuah bangunan tempat tinggal di ibu kotanya menjadi sasaran serangan udara. Menurut keterangan resmi di media sosial, serangan ini yang dikaitkan dengan Iran hanya menimbulkan kerugian finansial. Untungnya, tak ada korban jiwa yang berjatuhan.
Ini terjadi tak lama setelah pangkalan Angkatan Laut AS di wilayah yang sama juga diserang. Iran sendiri belum berkomentar, meski beberapa jam sebelumnya mereka mengklaim telah memulai gelombang baru serangan rudal dan drone, termasuk menggunakan rudal Khyber.
Di sisi lain, tetangga Bahrain juga tak kalah sibuk. Arab Saudi dan Qatar mengklaim berhasil mencegat sejumlah serangan di wilayah udara mereka. Kementerian Pertahanan Qatar bahkan menyebut angkatan udaranya berhasil menggagalkan serangan drone yang menargetkan Pangkalan Udara Adid pangkalan militer AS terbesar di Timur Tengah itu. Sebelumnya, peringatan darurat dikirim ke ponsel warga Qatar, meminta mereka menjauhi jendela dan area terbuka.
Sementara ketegangan militer memanas, dari Washington muncul suara lama. Mantan Presiden Donald Trump menyatakan dirinya harus punya peran langsung dalam memilih pemimpin baru Iran. Melalui BBC Persia, dia kembali menyeru tentara Iran untuk meletakkan senjata dan menyarankan para diplomatnya mencari perlindungan di negara tempat mereka bertugas.
Di Iran sendiri, situasinya sungguh suram. Serangan udara dilaporkan terus berlanjut, menyasar pusat-pusat militer dan pemerintah. Sebuah stadion di kompleks olahraga Azadi juga jadi sasaran. Yang lebih memilukan, organisasi kesehatan dunia (WHO) mengonfirmasi setidaknya 13 fasilitas kesehatan di Iran hancur akibat serangan.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, dengan tegas menyatakan,
“Berdasarkan hukum humaniter internasional, layanan dan fasilitas kesehatan harus dilindungi dan tidak boleh menjadi sasaran.”
Dia tidak merinci lebih jauh siapa yang bertanggung jawab. Tapi foto-foto dari Rumah Sakit Gandhi Teheran menunjukkan kerusakan parah, memaksa evakuasi semua pasien.
Kepanikan juga terasa di kedutaan AS di Kuwait. Menurut laporan CBS News, Washington memerintahkan evakuasi penuh. Staf diperintahkan menghancurkan dokumen dan menghapus data rahasia dari Kamis malam hingga Jumat. Perintah ini keluar setelah militer Kuwait mengaku mencegat rudal yang masuk wilayah udaranya. Pecahannya jatuh, merusak sebuah mobil, tapi sekali lagi tidak ada korban luka.
Lalu, ada kabar mengejutkan dari Samudra Hindia. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengklaim kapal selamnya menenggelamkan sebuah kapal perang Iran. “Kapal itu merasa aman di perairan internasional, tapi justru dihantam torpedo,” ujarnya. Hegseth enggan menyebut nama kapal, namun sebelumnya Angkatan Laut Sri Lanka melaporkan kapal IRIS Dena tenggelam di lokasi yang sama. Sekitar 140 orang dinyatakan hilang.
“Ini memang bukan pertarungan yang seimbang, dan tidak dimaksudkan sebagai pertarungan yang seimbang,” kata Hegseth dengan nada keras. “Kami sedang menghantam Iran saat mereka terpuruk. Gelombang yang lebih besar akan datang. Kami baru memulainya.”
Klaim AS ini dibantah oleh Sri Lanka. Juru bicara Angkatan Laut mereka, Budhika Sampath, mengatakan pihaknya hanya menemukan orang-orang terapung dan serpihan minyak. “Kami hanya melihat beberapa sekoci. Tidak ada kapal Iran yang terlihat. Kapal itu sudah tenggelam,” katanya kepada BBC Sinhala. Sampath menegaskan, penyebab tenggelamnya kapal masih diselidiki dan mereka menolak laporan bahwa itu akibat serangan kapal selam.
Konflik yang meluas ini juga menyentuh titik-titik vital ekonomi. Seorang pejabat tinggi Garda Revolusi Iran, Ebrahim Jabbari, mengancam akan “membakar” kapal apa pun yang mencoba melintasi Selat Hormuz. “Mereka pasti akan menghadapi respons serius dari kami,” gertaknya di televisi pemerintah. Ancaman ini bukan main-main, mengingat seperlima pasokan minyak dan gas dunia melewati selat sempit itu.
Ancaman dibalas ancaman. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan “serangan terberat” terhadap Iran “masih akan datang”. Presiden Trump, dalam pidatonya, menyebut keputusannya menyerang Iran sebagai “kesempatan terakhir dan terbaik” untuk menghentikan rezim tersebut.
Di lapangan, dampaknya sudah nyata. Sebuah stasiun CIA di kedutaan AS di Riyadh dilaporkan kena hantam drone. Arab Saudi mengonfirmasi serangan itu menyebabkan kebakaran terbatas dan kerusakan kecil. Citra satelit kemudian menunjukkan kerusakan pada kilang minyak Ras Tanura milik Aramco, meski pihak Saudi menyebut kerusakannya ringan.
Di Lebanon, situasi makin mencekam. Israel membalas serangan roket dari Hizbullah yang menyatakan aksinya sebagai pembalasan atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Khamenei dengan serangan dahsyat yang menewaskan 31 orang. Israel lalu memerintahkan warga di lebih dari 50 desa di Lebanon selatan untuk mengungsi. “Siapa pun yang berada di dekat anggota Hizbullah mempertaruhkan nyawanya,” bunyi peringatan itu. Di Beirut, warga terbangun oleh dentuman ledakan sebelum fajar.
Korban jiwa terus berjatuhan. Di sebuah sekolah perempuan di Minab, Iran, serangan udara menewaskan lebih dari 160 orang kebanyakan anak-anak. Foto-foto pemakaman yang beredar menyiratkan duka yang dalam. Sementara Bulan Sabit Merah Iran mencatat, total korban tewas di negara mereka telah mencapai 787 jiwa.
Konflik ini jelas belum akan berakhir. Dengan ancaman dari kedua belah pihak, dan wilayah yang semakin meluas, dunia hanya bisa menahan napas menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Artikel Terkait
Ketua Golkar Maluku Tenggara Tewas Ditikam di Bandara Langgur
Dominik Szoboszlai Alami Musim Tanpa Gelar Pertama dalam Karier Setelah Liverpool Tersingkir
PIS Perkuat Ekspansi Global dengan Mitra Ketiga, Pertahankan Dominasi Pelaut Indonesia
IDF Selidiki Prajurit yang Hancurkan Patung Yesus di Lebanon Selatan