AS Serang Radar Iran di Selat Hormuz, Eskalasi Baru Ancam Gencatan Senjata

- Sabtu, 06 Juni 2026 | 10:45 WIB
AS Serang Radar Iran di Selat Hormuz, Eskalasi Baru Ancam Gencatan Senjata

Militer Amerika Serikat mengonfirmasi telah melancarkan serangan terhadap sejumlah situs radar di pesisir selatan Iran, tepatnya di dekat Selat Hormuz, pada Jumat lalu, dalam sebuah eskalasi terbaru yang kembali mengancam kelangsungan gencatan senjata yang rapuh di Timur Tengah.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan bahwa operasi tersebut diawali dengan tindakan menembak jatuh empat drone bunuh diri milik Iran yang diluncurkan menuju Selat Hormuz. Langkah itu diambil setelah militer AS menilai bahwa drone-drone tersebut membawa ancaman langsung terhadap keselamatan lalu lintas maritim di kawasan strategis tersebut.

“Drone serang tersebut menimbulkan ancaman langsung terhadap lalu lintas maritim regional,” demikian pernyataan resmi CENTCOM yang dikutip pada Sabtu, 6 Juni 2026.

Setelah menetralisir ancaman udara, militer AS kemudian melanjutkan serangan dengan menyasar fasilitas radar pengawasan pantai Iran yang berada di Kota Goruk dan Pulau Qeshm. Serangan terhadap instalasi radar tersebut, menurut pernyataan militer AS, dilakukan semata-mata untuk “mencegah serangan lanjutan” dari pihak Iran.

Gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran sejatinya telah berlaku sejak 8 April. Meski demikian, perundingan untuk mencapai kesepakatan damai yang permanen hingga kini belum juga menunjukkan titik terang. Situasi ini menempatkan Presiden AS Donald Trump di bawah tekanan domestik yang semakin besar, terutama karena konflik yang berkepanjangan memicu gejolak pasar dan dinilai tidak populer di kalangan pemilih menjelang pemilu sela.

Dalam sebuah wawancara dengan NBC News pada Jumat malam, Trump mengakui bahwa Iran masih memiliki kemampuan tempur meskipun infrastruktur militernya telah mengalami kerusakan parah. “Mereka masih punya beberapa rudal dan drone. Saya kira secara persentase mungkin tinggal sekitar 21 atau 22 persen dari stok rudal mereka,” ujar Trump.

Di sisi lain, militer Iran pada hari yang sama mengklaim telah menembakkan “rudal peringatan” ke arah dua kapal perusak Amerika Serikat yang berlayar di Teluk Oman. Namun, klaim tersebut langsung dibantah oleh pihak militer AS yang menyatakan tidak ada insiden semacam itu terjadi.

Sementara itu, dua hari sebelum serangan ini terjadi, Kuwait melaporkan telah berhasil mencegat 30 rudal balistik yang menurut pemerintah setempat merupakan bagian dari “agresi keji Iran.” Peristiwa itu menambah daftar panjang ketegangan yang melibatkan aktor-aktor regional di sekitar perairan Teluk.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar