Data dari skrining itulah yang kemudian jadi dasar pemerintah menyusun kebijakan. Mulai dari menyiapkan tata laksana penanganan yang tepat, hingga menyediakan tenaga ahli di lapangan.
“Dan dari situ, kita sudah mulai menghitung, bikin kebijakan,” jelasnya. “Ini skriningnya sudah ketahuan banyak, nah harus ada tata laksananya kan. Harus ada tindakannya.”
Menurut Budi, tindakan itu terbagi dua. Untuk kondisi yang lebih ringan seperti kecemasan, konseling jadi andalan. Sementara untuk depresi berat, intervensi obat seringkali diperlukan.
Untuk mendukung semua rencana itu, persiapan sumber daya manusia sudah digeber. “Tadi sudah dihitung, supaya mulai tahun depan kita isi tuh 10.000 Puskesmas secara bertahap ada tenaga kesehatan khusus yang bisa menangani masalah kesehatan jiwa,” paparnya.
Terakhir, ia menekankan komitmen pemerintah pada penanganan kasus-kasus berat. Menyadari tingginya angka depresi, anggaran untuk obat-obatan kesehatan jiwa telah dinaikkan secara signifikan.
“Itu anggaran untuk obat-obatannya juga sudah kita naikkan lima kali lipat,” tandas Budi. “Kita bagi ke semua Puskesmas.”
Artikel Terkait
Buaya Muara Nongkrong di Depok, Warga Sekolah Cemas
SBY Peringatkan Dunia: Geopolitik Memanas Bak Jelang Perang Besar
Mantan Wamenaker Noel Gerungan Diadili, Terima Gratifikasi Rp3,3 Miliar dan Motor Ducati
Cosplay Cokelat Saylviee: Dari Basis Penggemar ke Ledakan Viral di TikTok