Pernah enggak sih, kamu yakin sudah benar-benar move on? Gaya hidup sudah berubah, lingkaran pertemanan baru, bahkan mungkin ada orang baru yang menarik perhatian. Tapi anehnya, di saat-saat yang tak terduga bisa tengah malam sunyi atau justru di tengah keriuhan kumpul teman kenangan itu datang lagi. Seperti ada tarikan halus yang membawamu kembali ke masa lalu, padahal kamu lagi enggak mikirin dia sama sekali.
Perasaan yang aneh ini, ternyata punya namanya: Soul Tie atau Ikatan Jiwa. Konsep ini belakangan ramai dibicarakan karena seolah menjawab kegelisahan banyak orang. Kenapa ya, hubungan yang sudah jelas-jelas berakhir dan bahkan toxic, masih saja meninggalkan bekas yang dalam? Rasanya seperti ada ikatan yang susah diputus, meski akal sehat bilang sudah waktunya melupakan.
Soul Tie: Ikatan Jiwa atau Sekadar Keterikatan Emosional Biasa?
Dari kacamata spiritual, soul tie sering digambarkan sebagai ikatan energi. Dua jiwa yang pernah berinteraksi sangat intens seolah menyatu, meninggalkan sebagian diri pada satu sama lain. Ikatan itu terasa nyata, meski tak kasat mata.
Namun begitu, psikologi punya penjelasan yang lebih membumi. Fenomena ini sebenarnya adalah bentuk keterikatan emosional yang sangat kuat. Hubungan itu pernah menjadi segalanya: sumber rasa aman, pengakuan, dan alasan untuk bangun pagi. Wajar saja kalau otak dan hati kita butuh waktu ekstra lama untuk melepaskan kabel-kabel emosi yang sudah tertanam begitu dalam.
Jadi, istilah soul tie akhirnya melekat sebagai sebutan untuk keterikatan emosional yang tidak sehat. Ikatan yang bertahan melampaui akhir sebuah hubungan, dan seringkali tetap terasa menyakitkan.
Bagaimana Sebenarnya Ikatan Seperti Ini Bisa Terbentuk?
Ikatan yang dalam tidak muncul begitu saja dari percakapan ringan. Ia tumbuh dari kedekatan dan pengalaman emosional yang intens, yang bahkan memengaruhi kimia tubuh kita. Beberapa hal ini sering jadi pemicunya.
Hormon yang Bikin Nyaman. Kedekatan fisik dan emosional memicu pelepasan oksitosin, si hormon "rasa nyaman". Tanpa disadari, tubuh kita mulai menganggap sosok itu sebagai sumber utama perasaan aman dan tenang.
Berbagi Ingatan Inti. Saat kamu membongkar rahasia terdalam, ketakutan terbesar, dan mimpi-mimpi yang belum terceritakan, kamu sedang menyerahkan bagian dirimu yang paling rentan. Kehilangan orang itu terasa seperti kehilangan separuh diri, karena dialah yang paling paham isi kepalamu.
Di sisi lain, ada pola yang justru memperkuat ikatan dari hal yang tidak sehat.
Siklus Trauma Bonding. Hubungan penuh drama bertengkar hebat lalu berbaikan dengan manis bisa bikin candu. Roller coaster emosi ini memicu hormon stres dan kelegaan secara bergantian. Itulah sebabnya hubungan yang paling menyiksa justru sering kali paling sulit untuk ditinggalkan.
Melepaskan Ikatan: Langkah Kecil Menuju Kebebasan
Kalau ikatan ini mulai terasa seperti beban yang menghambat langkahmu, melepaskannya tidak perlu dengan cara yang dramatis. Intinya adalah mengambil kembali kendali atas emosimu, pelan-pelan.
Pertama, akui saja bahwa semuanya sudah berakhir.
Ini bukan tentang siapa yang salah. Ini tentang kejujuran pada diri sendiri. Berhenti berharap pada sesuatu yang sudah tidak ada adalah fondasi utamanya.
Kedua, beri jarak.
Menjauh bukan bukti kebencian, tapi bentuk kasih sayang pada diri sendiri. Selama kamu masih terus melihat unggahannya, membaca chat lama, atau mendengar kabarnya, luka itu akan susah kering. Beri hatimu ruang untuk bernapas.
Lepaskan pemicu kenangan.
Foto, hadiah, atau bahkan lagu tertentu sering jadi portal yang membawa kita kembali. Menyimpannya untuk sementara waktu atau menyingkirkannya bisa membantu memutus rantai ingatan otomatis itu.
Terakhir, fokuskan kembali hidupmu.
Arahkan energi yang dulu tersedot habis untuk hubungan itu, ke hal-hal yang membangun dirimu. Coba rutinitas baru, perdalam pertemanan yang sehat, atau kejar tujuan yang tertunda. Kalau beban terasa terlalu berat, jangan ragu untuk minta bantuan. Bicara dengan profesional itu tanda kekuatan, bukan kelemahan.
Proses melepaskan memang tidak instan. Akan ada hari-hari baik di mana kamu merasa kuat, dan ada juga hari di mana kenangan datang mengguncang. Itu manusiawi. Yang penting, kamu tetap melangkah. Perlahan-lahan, ikatan yang dulu terasa mengikat erat akan mengendur. Dan tanpa kamu sadari, suatu hari nanti kamu akan berjalan tanpa lagi menoleh ke belakang.
Artikel Terkait
Ahli Feng Shui Sarankan Penataan Rumah untuk Hadapi Energi Dinamis Tahun Kuda Api 2026
Konsolidasi Pendidikan 2026 Hasilkan Sembilan Rekomendasi Strategis
The Changcuters Gelar Tur Konser di Inggris, Realisasi Mimpi Hijrah ke London
Pengadilan Tolak Praperadilan, Status Tersangka Dokter Richard Lee Dikukuhkan