Aparat pun punya kewenangan untuk menindak tegas siapa saja yang sengaja membuat konten menyesatkan, apalagi kalau motifnya cari untung.
Viralitas dan Lemahnya Literasi
Menurut pengamat, fenomena "bocil block blast" ini cerminannya apa? Ya, literasi digital kita yang masih perlu ditingkatkan. Algoritma media sosial punya andil besar. Ia mendorong konten yang ramai dibicarakan, tanpa peduli itu benar atau nggak.
Ujung-ujungnya, isu yang samar kebenarannya gampang banget viral cuma karena efek penasaran massal. Kalau dibiarkan terus, pola begini bakal merusak ekosistem digital kita sendiri.
Lalu, Harus Gimana?
Menyikapi semua ini, beberapa hal bisa kita lakukan:
Pertama, jangan klik atau bagikan link yang sumbernya meragukan.
Kedua, hindari mencari kata kunci yang berbau pelanggaran hukum.
Ketiga, laporkan konten mencurigakan ke platform yang bersangkutan.
Terakhir, tingkatkan pemahaman digital, terutama buat anak-anak dan remaja.
Peran orang tua juga krusial. Pengawasan aktivitas online anak-anak harus lebih aktif, biar mereka terhindar dari konten yang nggak sesuai usianya.
Klarifikasi? Masih Nihil
Hingga Jumat (18/1) ini, belum ada pernyataan resmi dari pihak berwajib atau platform media sosial soal kebenaran video "bocil block blast" itu. Kemungkinan besar, ini cuma siklus clickbait yang berulang, menghiasi ruang digital Indonesia dengan sensasi semu.
Intinya, kita harus lebih kritis. Jangan mudah terbawa arus tren viral yang menyesatkan. Bijak bermedia sosial itu nggak cuma buat keselamatan diri sendiri, tapi juga untuk kesehatan bersama di dunia maya.
Artikel Terkait
Harapan dan Doa di Pondok Bambu untuk Yoga, Korban Hilang Pesawat Maros
Dari Tunanetra Jadi Terapis Andalan, Andry Buktikan Disabilitas Bukan Halangan Berkarya
Puisi: Arsip Sunyi yang Menyimpan Kekecewaan Publik
Banjir Lumpuhkan Lintasan, 82 Perjalanan KA Terpaksa Batal