Ketika Bumi Menolak, Langit Menyambut: Kisah Perjalanan Nabi yang Tak Mudah Diterima

- Jumat, 16 Januari 2026 | 17:00 WIB
Ketika Bumi Menolak, Langit Menyambut: Kisah Perjalanan Nabi yang Tak Mudah Diterima

Mendadak, ghulam itu memeluk Nabi dan mencium kepala beliau ﷺ. Sebuah momen penghiburan yang singkat di tengah kepedihan.

Kembali ke Makkah, sepuluh atau sebelas tahun sudah berlalu. Pengakuan sebagai nabi masih saja tak diterima kaumnya. Berat. Di titik ini, beliau bersimpuh. Berdoa kepada Allah, mengakui kelemahan dan ketidakmampuan. Memohon ampunan, khawatir segala penderitaan selama bertahun-tahun ini adalah akibat kekhilafannya sendiri, tanda kemarahan-Nya.

Selama ini, pengakuan beliau selalu dibantah. Orang-orang meminta mukjizat nyata, keajaiban fisik seperti yang ditunjukkan Nabi Musa. Mereka ingin bukti yang spektakuler.

Lalu, datanglah keajaiban Isra' Mi'raj.

Tapi anehnya, ketika beliau bercerita tentang mukjizat besar itu pergi ke Palestina, ke Masjid Al-Aqsa, lalu melintasi langit tujuh dan sekian lapis di atasnya, semua hanya dalam satu malam justru dianggap dusta. Dianggap tak masuk akal. Tidak logis.

Lalu, bukti apa lagi yang mereka mau? Kalau perilaku wajar selayaknya manusia biasa tak diterima sebagai bukti, lalu ketika yang luar biasa diberikan, kenapa juga ditolak dengan alasan "tidak wajar"?

Padahal, menurut sejumlah saksi dan riwayat, Isra' Mi'raj itu sendiri sebenarnya adalah semacam hiburan. Sebuah rekreasi rohani yang dihadiahkan Allah kepada kekasih-Nya ﷺ. Sebuah bukti nyata bahwa segala cobaan berat yang menimpa beliau selama ini bukan karena kesalahan atau hukuman. Bukan itu. Tapi justru karena itulah jalan yang harus dilalui seorang yang besar. Ujian besar untuk jiwa yang besar.

Memang begitulah cara Allah memperlakukan para kekasih-Nya. Memang seperti itulah jalannya. Berliku, penuh duri, dan seringkali tak masuk di akal manusia biasa. Inilah perjalanan dakwah yang harus ditempuh seorang nabi, para ulama, dan setiap penerusnya.

Mengingat Kembali Isra' Mi'raj
Oleh: Najih Ibn Abdil Hameed
Dari berbagai sumber kitab terpercaya.


Halaman:

Komentar