Isra Mikraj dan Ironi Ibadah di Tengah Krisis Moral Indonesia

- Jumat, 16 Januari 2026 | 14:00 WIB
Isra Mikraj dan Ironi Ibadah di Tengah Krisis Moral Indonesia

Oleh: Muhibbullah Azfa Manik

Ada yang janggal. Coba lihat saja setiap Jumat, masjid-masjid ramai sekali. Saf-safnya rapat, suara takbir terdengar jelas. Tapi begitu keluar dari sana, realitas yang kita hadapi sungguh berbeda. Korupsi masih merajalela, kekuasaan jadi barang dagangan, dan kebohongan politik diproduksi secara massal. Ibadah seolah berhenti di ujung sajadah, tak pernah benar-benar menyeberang ke kehidupan publik kita.

Nah, dalam konteks inilah peringatan Isra Mikraj seharusnya mengguncang kita. Jangan cuma jadi acara tahunan yang itu-itu lagi, dengan spanduk dan ceramah yang sudah bisa ditebak isinya. Ini momen untuk benar-benar merenung: apa sih makna perjalanan suci Nabi itu buat Indonesia sekarang?

Isra Mikraj kan peristiwa spiritual yang luar biasa. Di situlah Nabi Muhammad SAW menerima perintah shalat. Bukan yang lain. Shalat. Ibadah yang paling personal tapi juga paling disiplin. Lima waktu sehari, tak bisa ditawar. Seakan Tuhan mau bilang, perubahan peradaban yang besar itu dimulai dari pembentukan karakter pribadi dulu.

Masalahnya, karakter itu justru yang sedang krisis di negeri kita. Data korupsi makin menggunung. Parahnya, banyak pelakunya dikenal alim dan rajin beribadah. Lalu pertanyaannya, kalau shalat memang mencegah perbuatan keji dan mungkar, kenapa penjara masih penuh dengan orang-orang yang rajin bersorban dan memakai dasi?

Di sinilah Isra Mikraj seperti jadi kritik yang tajam. Agamanya tidak gagal. Yang gagal adalah cara kita memahaminya dan menjalankannya. Ibadah kita sering cuma jadi rutinitas mekanis, bukan latihan membangun moral. Shalat jadi formalitas belaka, kehilangan ruh transformasinya.

Menurut sejumlah saksi, ada pelajaran lain tentang kepemimpinan dari peristiwa ini. Ketika “bertemu” Tuhan, Nabi tidak meminta kekuasaan atau harta. Tidak juga minta kemenangan politik. Yang beliau dapat justru perintah untuk membenahi manusia lewat disiplin spiritual. Pesan yang terasa sangat asing di tengah hingar-bingar politik kita, di mana para elite sibuk berebut kursi dan pengaruh.

Politik di Indonesia sekarang? Seringnya cuma arena transaksi. Jabatan jadi komoditas, kebijakan jadi alat bayar utang. Rakyat cuma angka. Isra Mikraj menampar logika macam begini: pemimpin sejati itu bukan yang jago mengatur pencitraan, tapi yang berani menata akhlak dimulai dari dirinya sendiri.

Kita juga perlu ingat konteks sejarahnya. Isra Mikraj terjadi di titik terkelam hidup Nabi. Setelah ditinggal wafat Khadijah dan Abu Thalib, ditolak secara brutal di Thaif. Ini bukan detail sepele. Artinya, perjalanan spiritual tertinggi justru datang saat manusia ada di titik nadirnya.

Indonesia sekarang mungkin sedang dalam fase serupa. Hidup makin susah, PHK di mana-mana, bencana alam silih berganti. Banyak yang mulai putus asa. Dalam situasi seperti ini, Isra Mikraj membawa pesan penting: setelah keterpurukan, selalu ada peluang untuk bangkit. Asal kita tidak menyerah.

Tapi kebangkitan itu nggak jatuh dari langit, lho. Harus diupayakan. Spiritualitas bukan pelarian dari kenyataan pahit, melainkan bahan bakar untuk mengubah kenyataan itu. Iman tidak boleh berhenti di zikir di kamar, tapi harus jadi nyali untuk melawan ketidakadilan di jalanan.


Halaman:

Komentar