Harga saham PT Perintis Triniti Properti Tbk (TRIN) menutup perdagangan Kamis (15/1/2026) dengan penurunan 3,3 persen, berada di level Rp 1.610. Di hari yang sama, emiten properti ini justru menyelesaikan aksi pelepasan saham dalam skala besar.
Melalui keterbukaan informasi ke Bursa, TRIN melaporkan telah mengalihkan kembali saham-saham hasil buy back yang sempat mereka simpan sebagai saham treasury. Transaksi besar ini mereka lakukan dengan menggandeng PT Mirae Asset sebagai anggota bursa pelaksananya.
Menurut rilis resmi perusahaan, jumlah saham yang dilepas mencapai 88,36 juta lembar. Rata-rata harganya Rp947 per saham.
Dari penjualan itu, dana segar yang masuk ke kas perusahaan terhitung cukup signifikan: sekitar Rp56,99 miliar. Perusahaan yang terafiliasi dengan Rahayu Saraswati ini menegaskan transaksi ini tak menimbulkan kerugian sedikit pun bagi mereka.
Sebenarnya, ini bukan pelepasan pertama. Jumlah saham treasury yang wajib mereka lepas kembali itu awalnya mencapai 199 juta lembar. Beberapa hari sebelumnya, TRIN sudah mulai bergerak.
Pada 7 Januari lalu, mereka melepas 510 ribu saham di pasar reguler Bursa dengan harga Rp1.848,92 per lembar. Lalu, di tanggal 13 Januari, giliran 22,8 juta saham lebih yang dijual di pasar negosiasi, kali ini dengan harga jauh lebih rendah, Rp400 per saham.
Transaksi di pasar negosiasi berlanjut dua hari kemudian, tepatnya 15 Januari, dengan volume yang lebih besar: 38,44 juta saham lagi di harga yang sama, Rp400. Setelah rangkaian aksi itu, tersisa lah 88,36 juta lembar yang akhirnya dilepas di hari yang sama juga, namun dengan harga berbeda, yaitu Rp947 per lembar. Dengan demikian, kewajiban mengalihkan kembali saham treasury mereka sudah terlaksana seluruhnya.
(Febrina Ratna Iskana)
Artikel Terkait
Accola Sport Centre Serpong Dibangun di Lahan 1,4 Hektare, Targetkan Operasional September 2026
Laporan JP Morgan: Indonesia Peringkat Kedua Dunia untuk Ketahanan Energi
Garuda Indonesia Pangkas Kerugian Hampir 40% di Kuartal I 2026
BEI Soroti Rencana Dividen Rp564 Miliar MDS Retailing, Ekuitas Dikhawatirkan Negatif