Rencana PT MDS Retailing Tbk untuk membagikan dividen tunai senilai Rp564 miliar tak pelak menarik perhatian. Nilainya cukup besar, mencapai Rp250 per saham, dan menyerap 78% dari laba bersih tahun lalu yang tercatat Rp725 miliar. Tapi, rencana "jumbo" ini bukannya tanpa tanda tanya.
Bursa Efek Indonesia (BEI) sendiri menyoroti hal ini. Kekhawatirannya ada pada posisi ekuitas perusahaan. Di akhir 2025 nanti, ekuitas MDS Retailing diproyeksikan cuma tersisa Rp273 miliar. Kalau dividen itu benar-benar dibayarkan, besar kemungkinan ekuitasnya jadi negatif. Situasi yang tentu bikin was-was.
Menanggapi sorotan BEI, Corporate Secretary MDS Retailing, Susanto, punya penjelasan tersendiri. Lewat surat tertanggal Rabu (23/4/2026), ia menyebut perusahaan punya dasar hukum yang kuat.
"Pada dasarnya, perseroan berhak membagikan dividen tersebut karena posisi saldo laba setelah dikurangi dengan cadangan wajib mencapai Rp3,85 triliun," ujarnya.
Dari angka sebesar itu, nilai dividen Rp564 miliar ternyata hanya mengambil porsi sekitar 15%. "Oleh karena itu, perseroan berhak melakukan pembagian dividen," tegas Susanto.
Lalu, soal ancaman ekuitas negatif? Manajemen optimistis itu tidak akan terjadi. Susanto memproyeksikan ekuitas akan tetap positif di kuartal II-2026. Optimisme ini ditopang sejumlah faktor, salah satunya kinerja penjualan saat musim Lebaran Maret lalu yang disebut cukup menggembirakan.
Bahkan, untuk kuartal I-2026 ini, perusahaan memprediksi laba bersihnya bisa menembus angka di atas Rp600 miliar. Kalau tercapai, otomatis saldo laba bertambah dan ekuitas terjaga di zona positif.
Di sisi lain, Susanto juga memaparkan kekuatan model bisnis mereka. Menurutnya, arus kas yang dihasilkan dari tahun ke tahun jauh melampaui kebutuhan untuk belanja modal. Meski begitu, perusahaan tetap mengalokasikan laba untuk hal-hal strategis dulu.
Mulai dari pembukaan gerai baru, peremajaan toko lama, sampai investasi di bidang IT. Nah, sisa setelah semua kebutuhan itu terpenuhi, barulah dibagikan ke pemegang saham sebagai dividen.
"Kebijakan dividen kami sebesar minimum 50 persen dari laba bersih tetap mempertimbangkan pertimbangan-pertimbangan di atas," jelasnya.
Soal likuiditas, perusahaan mengklaim tidak ada masalah. Pembayaran dividen akan mengandalkan kas internal. Tapi sebagai langkah antisipasi, mereka punya "payung" tambahan: fasilitas pinjaman siaga dari Bank CIMB Niaga senilai Rp1,7 triliun yang bisa ditarik kapan saja.
"Dengan demikian, likuiditas perseroan tetap terjaga dengan baik pasca pembagian dividen," pungkas Susanto. Sekarang, tinggal menunggu realisasinya.
Artikel Terkait
Laporan JP Morgan: Indonesia Peringkat Kedua Dunia untuk Ketahanan Energi
Garuda Indonesia Pangkas Kerugian Hampir 40% di Kuartal I 2026
Harga Emas Antam Turun Rp25.000 per Gram, Buyback Anjlok Lebih Dalam
WSBP Catat Pendapatan Rp395 Miliar di Kuartal I 2026, Kontribusi Terbesar dari Jasa Konstruksi