Ekonomi Biru Buktikan Hasil: Produksi dan Ekspor Perikanan Naik, Konservasi Laut Meluas

- Rabu, 07 Januari 2026 | 12:15 WIB
Ekonomi Biru Buktikan Hasil: Produksi dan Ekspor Perikanan Naik, Konservasi Laut Meluas

Selama ini, banyak yang mengira bahwa membangun ekonomi berarti mengorbankan lingkungan. Tapi coba lihat apa yang terjadi di sektor kelautan dan perikanan kita belakangan ini. Ternyata, dua hal yang dianggap berseberangan itu pertumbuhan dan keberlanjutan bisa berjalan beriringan.

Kunci utamanya ada pada konsep Ekonomi Biru yang digaungkan Menteri Trenggono. Di sini, laut dan isinya tidak cuma dieksploitasi untuk hari ini. Sumber daya itu dikelola sebagai sebuah ekosistem ekonomi jangka panjang, dengan prinsip keadilan dan pengukuran yang jelas.

Dan hasilnya? Cukup menggembirakan. Sektor ini berhasil menjaga produksi tetap stabil, mendongkrak angka ekspor, sekaligus memperluas area konservasi. Yang terpenting, nelayan dan pembudidaya pun merasakan dampaknya.

Ini membuktikan Ekonomi Biru bukan cuma wacana. Pendekatan ini mulai menunjukkan bukti nyata di lapangan.

Ambil contoh data produksi hingga triwulan ketiga 2025. Angkanya mencapai 18,64 juta ton, naik sekitar 2,19% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Rinciannya, perikanan tangkap menyumbang 5,43 juta ton, budidaya ikan 5,01 juta ton, sementara rumput laut mendominasi dengan 8,2 juta ton.

Komposisi ini menarik. Ia menunjukkan keseimbangan antara memanen dari alam dan mengembangkan budidaya sebagai penopang masa depan.

Nah, peran budidaya sendiri semakin krusial. Kalau digabung dengan produksi rumput laut, kontribusinya melonjak jadi sekitar 13,2 juta ton. Kini, budidaya tidak lagi dipandang sebagai pelengkap semata.

Di bawah kepemimpinan Trenggono, KKP menempatkannya sebagai pilar ketahanan pangan. Pengembangan budidaya tematik, seperti lele dan nila sistem bioflok di Jawa, jelas diarahkan untuk mendukung program Makan Bergizi sekaligus swasembada protein.

Stabilitas produksi ini langsung terlihat di kinerja ekspor. Hingga Oktober 2025, nilai ekspor hasil perikanan kita tembus USD 5,07 miliar. Surplus neraca perdagangannya pun cukup gemuk, mencapai USD 4,53 miliar.

Udang masih jadi andalan utama, diikuti oleh kelompok tuna-cakalang-tongkol, cumi-sotong-gurita, rajungan-kepiting, dan rumput laut. Surplus yang konsisten ini menegaskan posisi Indonesia sebagai eksportir bersih di kancah global.

Tapi tentu, capaian ekspor ini tidak datang tiba-tiba. Ada kerja keras di baliknya, mulai dari membenahi sistem sertifikasi, perizinan, hingga diplomasi pasar. Ambil contoh kasus udang ke AS.

Berkat penunjukan KKP sebagai "certifying entity" untuk sertifikasi bebas Cesium 137, ekspor udang ke sana kembali normal. Hasilnya, lebih dari 26 ribu ton udang berhasil dikirim, dengan potensi devisa yang terselamatkan mencapai Rp4,49 triliun. Angka yang tidak kecil.

Di sisi tata kelola, reformasi perizinan juga berjalan. Pada Desember 2025 saja, lebih dari 5.100 dokumen perizinan penangkapan ikan diproses. Ini memberi kepastian bagi pelaku usaha.

Namun begitu, pengawasan dan penegakan hukum tidak kendor. Sepanjang tahun yang sama, ratusan kapal dan rumpon ilegal ditindak. Potensi kerugian negara yang berhasil dicegah mencapai Rp6,13 triliun.


Halaman:

Komentar