Rencana go private dan delisting sukarela PT Inti Bangun Sejahtera Tbk (IBST) dari papan bursa BEI akhirnya resmi diumumkan. Langkah ini, menurut keterbukaan informasi yang dirilis Selasa (21/4/2026), merupakan bagian dari strategi induk usahanya, PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR).
Alasannya cukup jelas kalau dilihat dari struktur kepemilikannya. Kepemilikan saham publik IBST nyaris habis, cuma tersisa 0,05 persen per 31 Maret lalu. Mayoritas saham, ya, sudah dikuasai TOWR melalui anak perusahaannya, PT Iforte Solusi Infotek.
Nah, sebagai pemegang saham pengendali, Iforte bakal menggelar penawaran tender sukarela buat pemegang saham publik yang tersisa. Harganya ditetapkan Rp5.400 per lembar saham.
Angka itu sedikit lebih tinggi, sekitar 0,5 persen, dari rata-rata harga saham tertinggi IBST dalam 90 hari sebelum pengumuman rencana RUPSLB, yang ada di kisaran Rp5.374.
Lalu bagaimana dengan pemegang saham publik yang memilih untuk tidak ikut serta dalam tender? Mereka tetap bisa kok mempertahankan sahamnya. Hanya saja, statusnya nanti berubah. Setelah delisting, mereka akan menjadi pemegang saham di perusahaan tertutup, bukan lagi perusahaan publik.
Semua rencana ini tentu butuh persetujuan pemegang saham. Rencananya, Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) untuk membahas dan menyetujui aksi korporasi ini akan digelar pada 5 Juni 2026 mendatang.
Menurut sejumlah analis, langkah ini wajar mengingat kepemilikan saham yang sudah sangat terkonsentrasi. Go private dianggap bisa memberi fleksibilitas lebih bagi manajemen dalam menjalankan restrukturisasi tanpa tekanan pasar jangka pendek.
(DESI ANGRIANI)
Artikel Terkait
Riset Henan Asset: Potensi Arus Beli Paksa Enam Saham Indonesia pada Awal Juni 2026
IHSG Anjlok 3,38 Persen ke 7.129, Seluruh Sektor Saham Merah
Saham ICBP Anjlok 47% dari Puncak, Sentimen Timur Tengah dan Kenaikan Biaya Bahan Baku Jadi Tekanan
Hua Yan dan Andalan Sakti Inti Batal Negosiasi Akuisisi 51,18% Saham Ansa Land