HARIAN, TERNATE – Pukulan telak. Itulah yang harus diterima Persebaya Surabaya jelang duel krusial melawan Malut United di Stadion Kie Raha, Kamis nanti. Empat pilar utama mereka dipastikan absen. Dan yang bikin was-was, dua nama besarnya Bruno Moreira dan Ernando Ari masuk dalam daftar itu.
Gali Freitas dan Rachmat Irianto juga tak bisa turun. Kepergian mereka bukan cuma soal taktik. Nilai skuad pun ikut anjlok. Coba bayangkan, total nilai pasar yang hilang tembus angka fantastis: lebih dari Rp20 miliar. Kekuatan Green Force jelas terkikis signifikan di pekan ke-29 Super League Indonesia 2025/2026 ini.
Keadaan makin runyam melihat tren buruk yang dibawa Persebaya. Mereka baru saja menelan dua kekalahan beruntun. Gol-gol pun seakan jadi barang langka. Tekanan terhadap tim dan pelatih, Bernardo Tavares, tentu saja membesar.
Bernardo sendiri mengakui keefektifan lawannya. Menurutnya, Malut United punya naluri mematikan di depan gawang.
“Mereka tim yang sangat efektif. Tidak butuh banyak peluang untuk mencetak gol, bahkan setengah peluang pun bisa mereka manfaatkan,” ujar Tavares dalam konferensi pers.
Ia menekankan, fokus dan mental adalah kunci utama.
“Kami harus tetap fokus dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Apa yang kami lakukan di lapangan besok akan sangat penting. Kami harus menunjukkan bahwa kami adalah tim yang kuat,” sambungnya.
“Yang paling penting, pemain harus menikmati permainan. Jika mereka menikmati, mereka akan lebih fokus dan memiliki mentalitas yang lebih kuat,” tandas pelatih asal Portugal itu.
Memang, masalah Persebaya saat ini kompleks. Performa turun, skuad pun pincang. Gali Freitas absen karena akumulasi kartu. Padahal, pemain bernilai Rp3,48 miliar itu punya peran vital dalam serangan.
Ernando Ari dan Bruno Moreira? Status mereka masih diragukan. Sang kiper (Rp5,21 miliar) adalah benteng terakhir. Sementara Bruno (Rp6,95 miliar) adalah otak dari segala kreativitas serangan. Lalu ada Rachmat Irianto. Kabar paling buruk datang darinya: harus menjalani operasi lutut kanan. Dengan nilai Rp4,35 miliar, ia kemungkinan besar sudah tamat untuk musim ini.
Kalau dijumlah, kerugiannya luar biasa. Lebih dari Rp20 miliar menguap. Dampaknya langsung terasa pada keseimbangan tim, terutama saat beralih dari bertahan ke menyerang dan saat menyelesaikan peluang.
Lalu, bagaimana dengan Malut United?
Di sisi lain, kondisi tuan rumah juga jauh dari kata ideal. Di bawah asuhan Hendri Susilo, mereka terpuruk. Sudah empat laga beruntun tanpa kemenangan, termasuk dua kekalahan dari Bali United dan Dewa United.
Pertahanan mereka jadi masalah utama. Gawang Malut United kebobolan 10 gol hanya dalam empat pertandingan terakhir. Sungguh angka yang memprihatinkan.
“Malut United saat ini dalam keadaan tidak baik-baik saja. Artinya banyak faktor, cuma pada intinya kita tetap akan berjuang, bekerja keras untuk kembali ke trek yang sebenarnya, Malut United yang sebenarnya,” ujar Hendri Susilo, mencoba membangkitkan semangat.
Namun begitu, secercah harapan masih ada. Kabarnya, duet Nielson Junior dan Gustavo Franca berpotensi kembali memperkuat lini belakang. Kehadiran mereka bisa jadi penawar untuk memperbaiki pertahanan yang bolong-bolong itu.
Nantinya, laga di Kie Raha ini dipastikan penuh tensi. Baik Persebaya maupun Malut United sama-sama terjepit dan haus akan tiga angka. Siapa yang lebih efektif memanfaatkan kesempatan? Siapa yang mentalnya lebih kuat? Itulah yang akan menentukan.
Persebaya datang dengan skuad yang tak lengkap, ya. Tapi semangat juang mereka tak boleh dipandang sebelah mata. Sementara Malut United akan bersandar pada dukungan gemuruh suporter kandang mereka. Ini lebih dari sekadar pertarungan taktik. Ini ujian karakter. Yang tahan banting, dialah yang paling mungkin membawa pulang kemenangan.
Artikel Terkait
PSM Makassar Kembalikan Duet Bek Andalan demi Akhiri Kutukan Tanpa Kemenangan Lawan Persik Kediri
Shin Tae-yong Kembali Dikaitkan dengan Persija di Tengah Tekanan Jakmania dan Ancaman Gagal Juara
Veda Ega Pratama Pimpin Klasemen Rookie Moto3 Meski Sempat Tersandung di Austin
Gagal Penalti Maxwell Souza Bikin Persija Kehilangan Momentum di Bali