Laporan keuangan Garuda Indonesia untuk kuartal pertama 2026 akhirnya terbit. Kabarnya? Ada secercah cahaya. Maskapai pelat merah itu berhasil memangkas kerugian bersihnya hampir 40 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Tepatnya, kerugian menyusut ke level USD 46,5 juta atau sekitar Rp 790 miliar. Angka ini jauh lebih baik ketimbang Maret 2025 lalu, di mana mereka mencatat kerugian hampir USD 76 juta.
Memang, Garuda masih merugi. Tapi tren perbaikannya cukup jelas. Pendapatan usahanya naik 5,4% menjadi USD 762,3 juta. Pendorong utamanya datang dari penerbangan berjadwal, yang melesat 7,3% menjadi USD 648,1 juta. Di sisi lain, penerbangan tidak berjadwal justru anjlok cukup dalam, 34%, hanya menyumbang USD 25 juta.
Yang menarik, pendapatan dari sektor lain-lain termasuk kargo justru tumbuh solid sebesar 8,9%. Sektor ini menyumbang USD 89,3 juta untuk kas perusahaan.
Upaya efisiensi tampaknya mulai membuahkan hasil. Beban usaha berhasil ditekan turun 0,8% di tengah kenaikan pendapatan. Meski begitu, dua pos beban terbesar masih sama: beban operasional penerbangan (USD 350,2 juta) dan beban pemeliharaan serta perbaikan (USD 159 juta). Kabar baiknya, beban keuangan turun signifikan, 16%, menjadi USD 104 juta.
Namun begitu, ada angin kurang baik dari sisi nilai tukar. Garuda mencatat kerugian kurs USD 1,39 juta. Padahal, setahun sebelumnya mereka justru menikmati keuntungan kurs yang mencapai USD 12,8 juta. Perbedaan ini cukup signifikan.
Jadi, bagaimana kondisi akhir kuartalnya? Garuda masih menanggung kerugian operasional sebesar USD 49,1 juta. Rugi sebelum pajak tercatat USD 47,4 juta. Sementara rugi periode berjalan berada di angka USD 41,6 juta.
Di balik angka kerugian itu, ada hal penting yang patut disorot: arus kas operasi Garuda masih positif. Memang turun 26% menjadi USD 119 juta, tapi tetap hijau. Penurunan ini terjadi karena penerimaan kas dari pelanggan sedikit menyusut, 2,3%, menjadi USD 799,7 juta.
Alhasil, posisi kas dan setara kas mereka hingga akhir Maret 2026 terpantau cukup kuat: USD 857,5 juta atau setara Rp 14,6 triliun. Sebagian dari kenaikan kas ini, seperti diketahui banyak pihak, ditopang oleh suntikan modal berupa pinjaman dari Danantara senilai Rp 6,6 triliun yang diterima pada tahun 2025 lalu.
Jalan panjang masih menanti. Tapi setidaknya, untuk tiga bulan pertama tahun ini, Garuda menunjukkan langkah awal yang lebih ringan.
Artikel Terkait
Laporan JP Morgan: Indonesia Peringkat Kedua Dunia untuk Ketahanan Energi
BEI Soroti Rencana Dividen Rp564 Miliar MDS Retailing, Ekuitas Dikhawatirkan Negatif
Harga Emas Antam Turun Rp25.000 per Gram, Buyback Anjlok Lebih Dalam
WSBP Catat Pendapatan Rp395 Miliar di Kuartal I 2026, Kontribusi Terbesar dari Jasa Konstruksi