Jalur pelayaran Selat Hormuz bakal dibuka penuh. Pengumuman itu disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, lewat akun X-nya pada Jumat (17/4/2026).
Menurut Araghchi, pembukaan jalur vital perdagangan minyak dunia ini terkait erat dengan gencatan senjata yang baru saja disepakati di Lebanon. Selama masa gencatan itu berlangsung, kapal-kapal komersial diperbolehkan melintas.
"Seiring dengan gencatan senjata di Lebanon, jalur pelayaran bagi semua kapal komersial melalui Selat Hormuz dinyatakan sepenuhnya dibuka untuk sisa masa gencatan senjata," tulisnya.
Dia menambahkan, pelayaran harus melalui rute terkoordinasi yang sudah ditetapkan oleh Organisasi Pelabuhan dan Maritim Iran.
Gencatan senjata itu sendiri adalah hasil pertemuan di Washington. Israel dan Lebanon sepakat menghentikan tembak-menembak selama sepuluh hari.
Presiden AS Donald Trump lewat Truth Social mengonfirmasi waktu mulai gencatan: Kamis (16/4/2026) pukul 17.00 waktu timur AS.
Langkah Iran ini langsung dapat respons. Trump tampak mengapresiasi.
"Iran baru saja menyatakan bahwa Selat Hormuz sepenuhnya terbuka dan siap untuk dilalui secara penuh."
"Terima kasih!" tulisnya di platform yang sama.
Tapi jangan salah. Pujian itu tak lantas berarti blokade dicabut. Dalam unggahan berikutnya, Trump bersikeras blokade angkatan laut AS terhadap Iran akan tetap jalan.
"Sampai saat di mana kesepakatan kami dengan Iran telah selesai 100%," tegasnya.
Jadi, situasinya begini: selat dibuka, tapi kapal-kapal Iran sendiri masih terkurung oleh blokade Amerika. Sebuah paradoks yang cukup runyam di perairan yang sudah panas itu.
Artikel Terkait
Mensos Gus Ipul Tinjau Sekolah Rakyat Bogor, Temukan Anak Putus Sekolah Kini Percaya diri dan Bebas Bullying
Korlantas Polri Terjunkan Drone ETLE untuk Awasi Pelanggaran Ganjil Genap di Jakarta
Presiden Prabowo Copot Pimpinan Badan Gizi Nasional karena Lemahnya Disiplin SOP Tata Kelola Makanan
Pemkab Pandeglang Bantah Pelanggaran Prosedur dalam Pelantikan Tersangka Kecelakaan Maut sebagai Staf Ahli