Tanggul Kalimalang Jebol, Ratusan Rumah di Karawang Terendam

- Jumat, 16 Januari 2026 | 16:36 WIB
Tanggul Kalimalang Jebol, Ratusan Rumah di Karawang Terendam

Jumat pagi (16/1) warga Dusun Badami, Desa Margakaya, Karawang, dikejutkan oleh luapan air. Tanggul Irigasi Tarum Barat atau yang lebih dikenal sebagai Kalimalang, jebol. Akibatnya, satu dusun langsung terendam. Ketinggian airnya bervariasi, dari sebetis orang dewasa hingga hampir setengah badan, sekitar 30 sampai 70 sentimeter.

Menurut Bupati Karawang, Aep Syaepuloh, kejadiannya bermula sekitar pukul enam pagi. Retakan awal cuma dua meter, tapi dengan cepat melebar. "Penyebabnya karena tanggul tersebut usianya sudah tua," ungkap Aep saat meninjau lokasi.

Ia menyebut kerusakan itu akhirnya membesar hingga enam meter.

Dampaknya langsung terasa. Sekitar 400 kepala keluarga harus berhadapan dengan genangan yang masuk ke rumah mereka. Sementara itu, berapa luas persawahan yang ikut terendam? Itu masih dalam proses pendataan. Untuk keadaan darurat, pemerintah daerah bergerak cepat. Rencananya, mereka akan membangun tanggul darurat memakai bronjong. Tujuannya sederhana: membendung luapan air agar tak makin meluas ke permukiman.

Panggilan untuk BBWS

Di sisi lain, Aep tak hanya fokus pada penanganan darurat. Ia sudah mengontak Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum. Permintaannya jelas: segera lakukan perbaikan permanen.

"Penanggulangan sementara, saya sudah telepon BBWS untuk mengecilkan debit air. Target sementara yang penting tertanggulangi dulu, nanti selebihnya BBWS," terangnya.

"Saya harap ini sudah menjadi kewajiban BBWS. Tanggul ini sudah lama, jadi tolong dicek agar tidak terjadi jebol lagi ke depannya," sambung Aep.

Nah, soal teknisnya, Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas PUPR Karawang, Tri Winarno, punya penjelasan. Titik yang jebol itu ternyata ada sifonnya struktur semacam terowongan air yang biasanya untuk mengalirkan air ke sawah. Retakan dan jebolnya tanggul membuat air irigasi justru belok, masuk ke sifon yang malah terhubung langsung ke pemukiman.

"Ada sifon yang dipakai sebagai jalur lalu lintas air, ditambah peningkatan struktur di atas tanggul. Karena sudah tua, akhirnya jebol. Awalnya memang sudah terlihat ada retakan," jelas Tri.

Proses perbaikannya? Tidak akan instan. Untuk penanganan darurat saja, tim di lapangan memperkirakan butuh waktu tiga sampai lima hari. Perbaikan permanen tentu lebih lama lagi.

Sementara para petugas sibuk, warga seperti Niha hanya bisa melihat keadaan. Ia mengaku ini pengalaman pertamanya melihat Badami kebanjiran.

"Saya kurang tahu jam berapa awalnya, tahu-tahu sudah ramai. Ini pertama kali wilayah Badami banjir," katanya.

Ia tidak melihat langsung momen tanggul itu jebol. Saat keluar rumah, suasana sudah riuh rendah oleh air yang terus menggenang.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar