Shalat Bukan untuk Mudahkan Hidup, Tapi untuk Menguatkan Jiwa

- Jumat, 16 Januari 2026 | 16:40 WIB
Shalat Bukan untuk Mudahkan Hidup, Tapi untuk Menguatkan Jiwa

Rajin Shalat, Tapi Hidup Kok Masih Susah?

Pernah nggak sih, bertanya-tanya? Kita sudah disiplin shalat, tapi jalan hidup kok ya tetap berliku, penuh ujian. Rasanya seperti lari di tempat. Padahal, kita sudah berusaha taat.

Nah, coba kita tengok sejenak ke sejarah. Peristiwa Isra Mi‘raj yang agung itu, datang justru bukan di saat Nabi Muhammad ﷺ sedang jaya-jayanya. Justru sebaliknya. Saat itu, beliau sedang dihantam duka bertubi-tubi: ditinggal wafat oleh Siti Khadijah, istri yang paling dicintai, lalu menyusul pamannya, Abu Thalib. Belum lagi, penolakan dan cemoohan yang begitu pedih saat berdakwah di Thaif. Kalau pakai istilah sekarang, beliau sedang mengalami burnout yang sangat dalam.

Dan di titik terendah itulah, Allah menurunkan sesuatu. Bukan hiburan instan. Bukan juga kata-kata penyemangat atau solusi ajaib yang langsung melenyapkan semua masalah.

Yang diberikan justru sebuah perintah: shalat.

Ini menarik, lho. Pesannya jelas: shalat bukanlah alat untuk menghapus luka. Ia lebih mirip sebuah latihan. Latihan untuk menata ulang jiwa yang terluka, agar tetap bisa berdiri tegak meski beratnya masih terasa.

Di sinilah, menurut saya, kita sering kali salah paham. Kita hidup di zaman yang terobsesi dengan efisiensi, persis seperti kecerdasan buatan atau AI. Semuanya ingin cepat, ringan, instan. Pokoknya, beban harus diminimalisir.

Tapi Isra Mi‘raj justru mengajarkan hal sebaliknya. Makna hidup justru sering lahir dari bagaimana kita menanggung beban itu, bukan lari darinya. Dan kita menanggungnya bersama Sang Pencipta.

Jadi, shalat itu bukan pelarian. Ia adalah ruang latihan untuk bertahan, tanpa harus hancur berkeping-keping.


Halaman:

Komentar