SLEMAN Persaingan di Grup B Liga 2 makin panas. Posisi PSS Sleman di puncak kian kuat, sementara PSIS Semarang? Mereka masih terpuruk di dasar klasemen. Ancaman gagal promosi jadi bayang-bayang yang nyaris tak terelakkan.
Di Stadion Surajaya, Lamongan, PSS menunjukkan kelasnya. Mereka menang tipis 1-0 atas Persela. Gol cepat Irvan Mofu di menit kedelapan, yang tercipta dari umpan Frederic Injai, jadi penentu kemenangan. Cukup satu gol, lalu mereka mengatur permainan dengan cerdik.
Empat puluh lima poin sudah di kantong. Angka itu bicara banyak soal konsistensi. Tim ini tak lagi bermain gegap gempita, tapi lebih pada efisiensi yang dingin. Satu gol, lalu pertahanan rapat. Itu resep mereka sekarang.
Nah, cerita lain datang dari Sidoarjo. PS Barito Putera akhirnya menang! Setelah enam laga tanpa kemenangan, mereka menaklukkan Deltras FC 2-0 di Stadion Delta. Seperti melepas beban yang sudah menumpuk.
Wildan Ramdani membuka keran gol di menit ke-18. Assistnya Rizki Pora. Tak lama berselang, Alexsandro menggandakan keunggulan. Gol kedua itu lahir dari umpan Ferdiansyah di menit ke-31. Kemenangan ini mengangkat Barito ke posisi kedua dengan 41 poin, membuka kembali harapan untuk berebut tiket promosi langsung.
Sementara itu, di Stadion Sriwedari, Solo, Kendal Tornado FC juga meraih poin penuh. Mereka mengalahkan Persipura Jayapura dengan skor 2-1. Kendal unggul cepat lewat Kushedya Hari Yudo di menit ketiga. Gol kedua baru tercipta di babak kedua, tepatnya menit ke-61, oleh M. Ragil.
Persipura sempat bangkit di masa injury time. W. Lungo memperkecil ketertinggalan, memanfaatkan umpan dari legenda mereka, Boaz Solossa. Tapi itu sudah terlambat. Dengan hasil ini, kedua tim kini mengoleksi 40 poin. Persaingan untuk masuk tiga besar? Sangat ketat.
Namun begitu, suasana di Balikpapan justru muram. Pertandingan antara Persiba Balikpapan dan PSIS Semarang berakhir tanpa gol. Hasil imbang ini sama sekali tidak membantu posisi PSIS. Mereka tetap tercekat di peringkat kesembilan dengan 16 poin, masih terperangkap di zona merah.
Liga 2 masih menyisakan enam pertandingan. Peluang masih ada, tapi waktu tidak banyak. Posisi pertama berarti tiket langsung ke Liga 1. Posisi kedua? Harus melalui playoff yang berliku melawan runner-up Grup A.
Bagi PSS, jalan terang sudah di depan mata. Kunci utamanya adalah menjaga stabilitas yang sudah terbangun. Sebaliknya, bagi PSIS, setiap laga ke depan adalah final. Mereka harus berjuang mati-matian hanya untuk bertahan.
Inilah ironi sepak bola. Dua tim dengan segudang sejarah, kini berada di ujung yang berseberangan. Satu menatap langit, satu lagi bergulat di lumpur. Enam pekan mendatang akan menentukan segalanya. Bukan nama besar yang bicara, tapi ketahanan mental dan tekad di lapangan.
Artikel Terkait
Jakarta Ditunjuk Jadi Tuan Rumah FIA Rallycross World Cup 2026
FFI Targetkan Timnas Futsal Indonesia Tampil di Piala Dunia 2028
Kurniawan Minta Maaf Usai Timnas U-17 Takluk dari Malaysia
Mantan Kiper Arsenal dan Austria, Alex Manninger, Tewas dalam Kecelakaan Kereta Api