Shalat Bukan untuk Mudahkan Hidup, Tapi untuk Menguatkan Jiwa

- Jumat, 16 Januari 2026 | 16:40 WIB
Shalat Bukan untuk Mudahkan Hidup, Tapi untuk Menguatkan Jiwa

Lihatlah cara perintah ini diturunkan. Allah bisa saja mengutus malaikat dengan sebuah pesan tertulis. Itu kan lebih cepat dan efisien. Tapi tidak. Allah justru mengangkat seorang manusia dengan segala luka fisik dan keletihan batinnya naik melintasi langit, lalu mengembalikannya ke bumi yang sama.

Masalahnya sih tetap ada. Rintangannya pun tak berkurang. Tapi, cara memandangnya sudah berubah total.

Kalau kita masih mengukur hidup dengan parameter duniawi efisiensi, kecepatan, hasil yang instan maka kita mungkin belum sepenuhnya menangkap rahasia besar di balik Isra Mi‘raj.

Sebab, yang diajak naik ke langit bukanlah orang yang ingin hidupnya gampang. Melainkan, mereka yang bersedia tetap sujud, meski hidup sudah tak lagi memberikan alasan untuk bertahan.

Intinya begini: Tuhan tidak pernah berjanji akan mempermudah hidup kita setelah shalat. Tidak. Janji-Nya lebih dalam dari itu: Dia akan membuat hidup kita lebih bermakna.

Makanya, shalat jangan cuma dilihat sebagai gerakan rukuk dan sujud belaka. Ia tentang merasakan bahwa kita sedang dipanggil. Ia tentang menghayati kehadiran-Nya di setiap detik. Dan pada akhirnya, ia tentang menjalani hidup ini dengan-Nya sebagai sandaran.

Jadi, inti shalat bukanlah hidup yang jadi mudah. Tapi, ia adalah keberanian untuk terus menjawab panggilan Tuhan, bahkan saat dunia terasa tak ramah.

Tabik.

(Nadirsyah Hosen)


Halaman:

Komentar