Kalau lihat papan pergerakan saham Kamis lalu, pasti mata tertuju pada BELL. Saham PT Trisula Textile Industries Tbk itu melesat jadi top gainer, ditutup di Rp110 per lembar naik tajam 34,15% hanya dalam satu sesi. Banyak yang langsung bertanya-tanya, sebenarnya perusahaan ini bergerak di bidang apa sih?
Intinya, BELL adalah emiten yang fokus di industri tekstil dan garmen. Mereka produksi kain, sekaligus menjualnya. Bisnisnya sudah berjalan lama, bahkan sejak era 60-an.
Menurut catatan tahunan perusahaan, awal ceritanya dimulai dari Bandung pada 1968 oleh Tirta Suherlan. Awalnya cuma produksi kain untuk pasar dalam negeri. Namun begitu, seiring waktu, bisnisnya merambah ke garmen dan berkembang pesat.
Merek pertamanya, Bellini, diluncurkan tahun 1981. Lalu, lima tahun kemudian, mereka mengakuisisi PT Southern Cross Textile. Pabrik kedua ini yang kemudian memproduksi merek Caterina. Perluasan terus berlanjut: mendirikan pabrik garmen pertama, meluncurkan merek baru, hingga menambah kapasitas produksi.
Produknya sendiri terbagi dua. Untuk segmen tekstil, mereka menghasilkan kain seperti poliester, poliester rayon, dan polyester katun. Sementara di bagian garmen, ada pesanan khusus (made to order) dan juga pakaian jadi yang dijual ritel.
Pasar mereka cukup luas. Secara domestik, menjangkau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Bali. Untuk ekspor, jaringannya sampai ke Eropa, Timur Tengah, India, hingga negara-negara Asia seperti Vietnam, Thailand, dan Australia.
Lalu, siapa yang pegang kendali saham BELL?
Berdasarkan data BEI per akhir Desember 2025, pengendali utamanya adalah PT Trisula International Tbk (TRIS) sebagai induk perusahaan. Mereka pegang sekitar 5,71 miliar saham atau setara 78,87%.
Pemegang mayoritas lain adalah PT Southern Cross Textile Industry, dengan kepemilikan sekitar 9,99%. Sisanya, sekitar 10,83%, beredar di tangan publik.
Adapun penerima manfaat akhir, atau pemilik sebenarnya, adalah Kiky Suherlan dan Dedie Suherlan. Mereka adalah putra dari pendiri, Tirta Suherlan, yang mengambil alih setelah sang ayah wafat.
BELL sendiri baru melantai di Bursa Efek Indonesia pada 2017. Kala itu, mereka melepas 300 juta saham di harga Rp150 per lembar, mengantongi dana segar Rp45 miliar.
Kembali ke performa Kamis lalu, setelah ditutup menguat di sesi pertama, saham BELL bahkan menyentuh auto reject. Pada sesi kedua, antrean belinya mengular mencapai lebih dari 1 juta lot. Pergerakannya memang menarik perhatian.
Jadi, itulah profil singkat BELL. Emiten tekstil dan garmen yang kinerja sahamnya sedang jadi sorotan.
(Nadya Kurnia)
Artikel Terkait
Saham Konglomerasi dengan PBV Rendah Masih Bisa Ditemukan, Ini Daftarnya
Pengendali Baru NATO Luncurkan Tender Wajib dengan Harga Rp183, Jauh di Bawah Pasar
Saham PART Cetak Auto Reject, Melonjak 34% Jadi Top Gainer
IHSG Menguat 0,29% Usai Libur Imlek, RMKO dan ROCK Melonjak 24,6%