Sayangnya, inilah yang sering luput dari peringatan kita. Kita sibuk dengan lomba dan konsumsi. Setelah hari itu lewat, semuanya kembali biasa. Padahal, peristiwa ini harusnya memicu pertanyaan kritis: sejauh mana nilai-nilai agama ini benar-benar memengaruhi kebijakan publik kita?
Indonesia bukan negara agama, tapi juga bukan negara sekuler yang kering nilai. Konstitusi kita memberi ruang bagi agama jadi sumber etika publik. Persoalannya, nilai-nilai luhur itu kerap dikalahkan oleh kepentingan sesaat. Hukum tajamnya ke bawah, tumpulnya ke atas. Orang kecil gampang diciduk, sementara pelaku kejahatan kerah putih bebas berkeliaran.
Kalau shalat itu simbol hubungan vertikal dengan Tuhan, maka keadilan sosial adalah bukti hubungan horizontal dengan sesama. Percuma rajin sujud kalau kita tutup mata pada kemiskinan yang dibuat sistem. Tak ada artinya takbir kalau kita diam saja melihat ketimpangan.
Isra Mikraj juga mengajarkan persatuan. Dalam riwayat, Nabi memimpin shalat berjamaah yang diikuti para nabi sebelumnya. Itu simbol persatuan lintas zaman. Pesan yang sangat relevan sekarang, di saat negeri kita tercabik-cabik oleh politik identitas. Agama dijadikan alat kampanye, ayat dijadikan senjata, perbedaan sengaja dipelihara demi suara.
Ini berbahaya. Begitu agama dipolitisasi, yang rusak bukan cuma demokrasi, tapi iman itu sendiri. Isra Mikraj mengingatkan: agama datang untuk menyatukan, bukan memecah. Untuk membebaskan, bukan menindas.
Harus diakui dengan jujur: republik ini sedang mengalami krisis moral. Bukan krisis ideologi. Banyak orang pintar, tapi sedikit yang punya integritas. Banyak yang fasih bicara agama, tapi sedikit yang mempraktikkannya dalam keputusan-keputusan nyata.
Peringatan Isra Mikraj harusnya jadi ajakan untuk introspeksi nasional. Sudahkah shalat kita melahirkan kejujuran? Sudahkah iman kita menghasilkan keberpihakan pada yang lemah? Atau jangan-jangan, agama cuma jadi atribut dan label belaka?
Kalau setelah peringatan ini tidak ada perubahan sikap, ya Isra Mikraj tinggal jadi dongeng indah yang kehilangan tenaganya. Padahal, inti peristiwa itu adalah revolusi dari dalam: mengubah manusia secara personal, agar dunia di luarnya ikut berubah.
Mungkin ini tantangan terberat kita sekarang: mengembalikan agama pada fungsinya yang sejati. Bukan jadi hiasan politik atau identitas eksklusif, tapi sebagai sumber keberanian moral. Soalnya, bangsa ini tidak kekurangan orang pintar. Yang langka itu orang jujur.
Dan di situlah pesan Isra Mikraj kembali terasa mendesak: mengingatkan bahwa semua perubahan besar selalu berawal dari sujud yang tulus dan jujur.
Dosen Universitas Bung Hatta, Padang, Sumbar.
Artikel Terkait
Shalat Bukan untuk Mudahkan Hidup, Tapi untuk Menguatkan Jiwa
Tanggul Kalimalang Jebol, Ratusan Rumah di Karawang Terendam
Jalan Damai Tutup Kasus Fitnah Ijazah Jokowi untuk Dua Tersangka
Kisah Pilu Pasangan Remaja Medan: Hidup di Rumah Kosong Hanya dengan Rp 7.000