Simpanse Jenius Ai, Penghuni Laboratorium Kyoto University, Tutup Usia

- Jumat, 16 Januari 2026 | 16:30 WIB
Simpanse Jenius Ai, Penghuni Laboratorium Kyoto University, Tutup Usia

Dunia ilmu pengetahuan kehilangan salah satu subjek penelitian paling cemerlang. Ai, seekor simpanse yang namanya berarti "cinta" dalam bahasa Jepang, tutup usia di umur 49 tahun. Kabar duka ini datang dari para peneliti di Kyoto University.

Menurut pernyataan resmi dari Center for the Evolutionary Origins of Human Behavior, Ai menghembuskan napas terakhirnya pada Jumat lalu, tepatnya tanggal 8 Januari. Penyebabnya adalah kegagalan fungsi beberapa organ, ditambah penyakit-penyakit yang umumnya menyertai usia tua.

Ai bukan simpanse biasa. Selama hidupnya, ia terlibat dalam banyak studi tentang persepsi, memori, dan cara belajar. Kontribusinya sangat besar, membantu ilmuwan menguak tabir kecerdasan primata lebih dalam lagi.

Kemampuannya memang luar biasa. Seperti pernah diungkapkan ahli primata Tetsuro Matsuzawa pada 2014, Ai bisa mengenali lebih dari seratus karakter Mandarin dan alfabet Inggris. Ia juga paham angka Arab dari 0 sampai 9, serta mampu membedakan setidaknya 11 warna berbeda.

Percobaan-percobaan yang dilakukannya kerap memukau. Dalam satu studi, misalnya, Ai dihadapkan pada layar komputer yang menampilkan karakter Mandarin untuk warna merah muda. Di sebelahnya ada dua kotak: satu merah muda, satu ungu. Dengan konsisten, ia memilih kotak berwarna merah muda.

Ada juga eksperimen lain yang tak kalah menarik. Saat diperlihatkan sebuah apel, Ai bisa memilih bentuk-bentuk geometri di layar persegi, lingkaran, titik untuk menggambar buah itu secara virtual. Sungguh mengagumkan.

Tak heran, namanya pun menghiasi berbagai publikasi ilmiah dan tayangan media. Beberapa hasil kerjanya bahkan dimuat di jurnal ternama Nature. Media populer pun menjulukinya "simpanse jenius".

Ai datang ke Kyoto University pada 1977, didatangkan dari Afrika Barat. Kehidupannya di sana kemudian berlanjut dengan kelahiran anak jantan bernama Ayumu di tahun 2000. Menariknya, Ayumu ternyata mewarisi bakat ibunya. Kemampuan anaknya itu lantas menjadi bahan penelitian tersendiri, terutama untuk melihat bagaimana pengetahuan ditransfer antara induk dan anak.

Di sisi lain, warisan terbesar Ai mungkin adalah kerangka eksperimental yang ia bantu bangun. Berkatnya, para peneliti punya fondasi kokoh untuk menyelami cara kerja pikiran simpanse, yang pada akhirnya juga membantu kita memahami evolusi pikiran manusia sendiri.

Universitas memberikan pernyataan penghormatan terakhir.

“Ai punya rasa ingin tahu yang sangat besar dan selalu aktif terlibat dalam penelitian. Melalui dirinya, untuk pertama kalinya, banyak aspek pikiran simpanse berhasil terungkap.”

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar