AS Investigasi 120 Laboratorium Biologi AS di Luar Negeri untuk Hentikan Risiko Patogen Berbahaya

- Selasa, 12 Mei 2026 | 10:01 WIB
AS Investigasi 120 Laboratorium Biologi AS di Luar Negeri untuk Hentikan Risiko Patogen Berbahaya

Pemerintah Amerika Serikat saat ini tengah melakukan investigasi terhadap lebih dari 120 laboratorium biologi di luar negeri yang didanai oleh Washington selama beberapa dekade. Langkah ini diambil sebagai upaya untuk menghentikan eksperimen berisiko tinggi yang dinilai dapat memicu penyebaran virus berbahaya, seperti hanta.

Direktur Intelijen Nasional AS (DNI), Tulsi Gabbard, pada 11 Mei lalu mengonfirmasi bahwa penyelidikan tersebut merupakan tindak lanjut dari perintah eksekutif Presiden Donald Trump. Perintah itu secara khusus menyasar penelitian "peningkatan fungsi", yang menurut para ahli membawa risiko signifikan terhadap munculnya patogen berbahaya baik yang tercipta secara sengaja maupun tidak sengaja dalam skema yang dikenal sebagai "penelitian penggunaan ganda terkait studi" (DURC).

Gabbard menjelaskan bahwa timnya saat ini tengah mengidentifikasi lokasi laboratorium, jenis patogen yang disimpan, serta ragam penelitian yang dilakukan di fasilitas tersebut. Tujuan utamanya, kata dia, adalah mengakhiri segala bentuk eksperimen berbahaya yang mengancam keselamatan warga Amerika dan masyarakat global.

"Pandemi COVID-19 telah menunjukkan betapa dahsyatnya dampak yang bisa ditimbulkan oleh penelitian terhadap patogen berbahaya di laboratorium," ujar Gabbard dalam pernyataannya. Ia juga menuding pemerintahan sebelumnya sengaja menyembunyikan keberadaan laboratorium biologi yang didanai negara dari publik Amerika, bahkan disebutnya mengancam siapa pun yang berusaha mengungkap kebenaran.

Secara lebih rinci, komunitas intelijen AS akan meninjau seluruh kegiatan penelitian di laboratorium yang menerima dana Amerika, termasuk fasilitas yang melakukan studi tentang peningkatan penularan virus serta penelitian terkait pencegahan dan pengendalian patogen berbahaya. Sementara itu, para pejabat dari Kantor Direktur Intelijen Nasional AS (ODNI) mengungkapkan bahwa laboratorium-laboratorium tersebut tersebar di lebih dari 30 negara. Banyak di antaranya menerima pendanaan melalui program Departemen Perang AS yang dirancang untuk menghancurkan senjata pemusnah massal (WMD) pasca-Perang Dingin.

Dari total laboratorium yang diselidiki, lebih dari 40 fasilitas berada di Ukraina. Para pejabat ODNI menilai laboratorium di kawasan itu berisiko tinggi mengalami infiltrasi akibat konflik berkepanjangan dengan Rusia. Di sisi lain, para kritikus menyoroti lemahnya pengawasan terhadap aliran dana penelitian yang kerap disalurkan melalui lembaga federal ke penerima hibah dan subkontraktor. Kondisi ini, menurut mereka, membuat publik Amerika tidak mengetahui apakah eksperimen berbahaya tengah berlangsung di fasilitas-fasilitas tersebut.

"Uji klinis di laboratorium biologi ini menimbulkan kekhawatiran etis, finansial, dan keamanan yang signifikan," tegas para pejabat ODNI. Namun, perlu dicatat bahwa pada 9 Maret 2022, pemerintahan Presiden Joe Biden sebelumnya membantah adanya laboratorium kimia atau biologi milik Amerika Serikat di Ukraina.

Pada Mei 2025, Presiden Trump menandatangani perintah eksekutif yang melarang seluruh pendanaan federal untuk penelitian "peningkatan" di negara-negara yang tidak memiliki sistem pengawasan memadai. Dalam pernyataannya, Trump menekankan bahwa kasus virus SARS-CoV-2 menjadi bukti nyata betapa patogen berbahaya dapat bocor secara sembarangan dan nyaris menghancurkan dunia.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar