Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) setelah pengumuman hasil peninjauan saham atau rebalancing MSCI periode Mei 2026 dinilai sebagai konsekuensi jangka pendek yang telah diperhitungkan oleh pasar. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut reformasi pasar modal yang tengah berjalan memang dapat menimbulkan dampak negatif dalam jangka pendek, namun diyakini akan mendukung penyehatan sistem di masa mendatang.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menyampaikan hal tersebut dalam konferensi pers di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (13/5/2026). Ia menggambarkan kondisi ini sebagai short-term pain atau rasa sakit jangka pendek yang harus ditanggung demi membangun fondasi pasar modal yang lebih sehat dan kredibel.
“Short-term pain ini tentu menjadi konsekuensi yang sudah kita perhitungkan dan perkirakan sejak awal,” ujar Hasan.
Pernyataan serupa sebelumnya juga pernah disampaikan oleh Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, sebelum hasil peninjauan MSCI diumumkan. Pada hari yang sama, lembaga penyedia indeks global MSCI mengumumkan hasil peninjauan rutin untuk penyesuaian indeks acuan di Juni 2026. Dari saham-saham Indonesia yang masuk dalam indeks MSCI, sebanyak 18 saham dikeluarkan, terdiri dari lima saham dari indeks MSCI Global Standard dan 13 saham dari indeks MSCI Global Small Cap.
Satu saham lainnya turun kelas dari indeks standar global ke MSCI Global Small Cap. Sementara itu, MSCI tidak menambah saham baru di indeks standar global karena masih membekukan penambahan saham Indonesia sejak Januari 2026. Hasil peninjauan ini menyisakan 11 saham Indonesia di MSCI Global Standard Index dan 43 saham di MSCI Global Small Cap Index, yang efektif diterapkan mulai 1 Juni 2026.
Pengumuman tersebut langsung direspons dengan pelemahan IHSG pada pembukaan perdagangan Rabu. Indeks turun dari posisi 6.946 poin pada penutupan Selasa (12/5/2026) menjadi 6.763 poin pada Rabu. Hingga akhir perdagangan sesi pertama siang hari, IHSG ditutup di level 6.734.
Menanggapi hal itu, Hasan menilai reaksi pasar masih tergolong wajar. Penurunan yang tidak lebih dari dua persen dinilai tidak menunjukkan adanya kepanikan atau tekanan ekstrem pada saham-saham yang terdampak. “Tidak ada satu pun saham yang mengalami auto rejection bawah. Frekuensi, volume, dan nilai transaksi juga masih normal,” katanya.
MSCI menjadi sorotan pasar sejak mereka mengumumkan kebijakan tegas terhadap pasar saham Indonesia terkait isu investibilitas dan transparansi saham pada akhir Januari 2026. Akibat pengumuman tersebut, IHSG yang sebelumnya sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di sekitar 9.000 poin, kemudian mengalami koreksi tajam. Pada April 2026, MSCI kembali mengumumkan kebijakan baru, termasuk mengeluarkan saham berstatus High Shareholding Concentration (HSC) yang dilaporkan BEI sebagai bagian dari upaya reformasi pasar modal. Status ini menyoroti saham-saham yang kepemilikannya terkonsentrasi pada kelompok pemegang saham tertentu.
Hasan menjelaskan, hasil rebalancing MSCI kali ini tidak bisa dilepaskan dari agenda percepatan reformasi integritas pasar modal yang digulirkan OJK bersama self-regulatory organization (SRO) sejak Februari 2026. Reformasi itu mencakup delapan rencana aksi strategis, termasuk peningkatan transparansi struktur kepemilikan saham dan peningkatan free float perusahaan terbuka.
“Setelah transparansi dibuka, ini memudahkan penyedia indeks untuk mengeksplor bagian tertentu yang semula mungkin self-claim free float, tetapi ternyata setelah dibuka tidak menjadi bagian free float tertentu,” ujar Hasan.
Keterbukaan data kepemilikan saham yang lebih rinci membuat penyedia indeks global seperti MSCI dapat menghitung ulang porsi free float saham-saham Indonesia secara lebih akurat. Dampaknya, sejumlah saham tidak lagi memenuhi kriteria indeks global sehingga mengalami penyesuaian bobot, bahkan keluar dari indeks. Hal ini menjelaskan mengapa dalam rebalancing kali ini, MSCI tidak hanya mengeluarkan saham berkapitalisasi besar yang berstatus HSC, seperti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA).
Laporan tim analis Stockbit menilai, dihapuskannya empat saham non-HSC, yakni PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan pemindahan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) ke indeks kapitalisasi kecil, kemungkinan besar mencerminkan dampak penyesuaian free float yang lebih rendah. MSCI disebut mulai menggunakan data kepemilikan lebih dari satu persen dari Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).
Adapun penghapusan saham berstatus HSC, yakni BREN dan DSSA, sudah sesuai dengan yang disampaikan MSCI pada April lalu. Kedua saham itu berpotensi mengalami tekanan jual dari passive fund di sekitar tanggal efektif rebalancing pada 29 Mei 2026. “Kami menilai index review Mei 2026 ini sejalan dengan ekspektasi kami sebelumnya. Yang perlu dicermati ke depan adalah MSCI Market Accessibility Review pada Juni 2026 sebagai katalis yang lebih substansial,” tulis tim analis Stockbit dalam laporannya.
Analis Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, dalam laporan risetnya hari ini mengatakan, sebagian besar tekanan pasar akibat sentimen MSCI sebenarnya sudah berlangsung secara bertahap dalam beberapa bulan terakhir. Harga saham yang didepak dari indeks global standar seperti AMMN, CUAN, dan TPIA dinilai akan melemah dalam skala yang relatif lebih terbatas karena kapitalisasi pasar mereka sudah terkoreksi cukup dalam sejak awal tahun.
Di sisi lain, DSSA dan BREN menjadi pusat tekanan terbesar. DSSA diperkirakan menghadapi arus keluar dana asing pasif atau passive outflow sekitar Rp9 triliun dengan free-float adjusted market cap MSCI sekitar Rp66,1 triliun. Sementara BREN berpotensi terkena arus keluar dana asing sekitar Rp6 triliun dengan FIF-adjusted market cap sekitar Rp42,1 triliun. “Artinya, lebih dari separuh tekanan MSCI sebenarnya hanya bertumpu pada dua nama (saham) tersebut,” kata Liza.
Kiwoom Sekuritas menilai, estimasi arus keluar dana asing kini mulai terlihat lebih realistis dibandingkan skenario panik di awal yang sempat mengarah ke Rp50 triliun lebih. Pendiri JS Portofolio, Joeliardi Sunendar, memperkirakan outflow sekitar Rp27,8 triliun hingga Rp31 triliun. CGS International memperkirakan sekitar Rp31,5 triliun, sementara Citi dalam skenario buruk memperkirakan outflow bisa mencapai sekitar Rp34,7 triliun akibat rebalancing MSCI periode ini.
Sejauh ini, arus keluar bersih dana investor asing telah mencapai sekitar Rp49 triliun. Namun, Liza menilai angka itu belum tentu sepenuhnya mencerminkan efek MSCI. Sebagian tekanan kemungkinan sudah terjadi sejak beberapa bulan terakhir sebelum tanggal efektif pemberlakuan rebalancing pada 29 Mei 2026.
Perlu dicatat, pasar saham Indonesia secara umum juga dihantam sentimen pelemahan rupiah yang sejak awal tahun terdepresiasi 4,8 persen ke posisi Rp17.500 per dolar AS. Selain itu, ada pula efek berlanjutnya ketegangan geopolitik, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS, dan ketidakpastian global secara umum.
Dalam situasi ini, Kiwoom Sekuritas masih menyarankan investor untuk menerapkan strategi wait and see sambil menunggu volatilitas pasar mulai mereda. Area batas bawah penurunan IHSG masih berpotensi melebar menuju 6.762 hingga 6.745, bahkan membuka ruang penutupan di area 6.538 hingga 6.092. Sementara itu, area batas atas kenaikan IHSG terdekat diproyeksikan berada pada kisaran 6.980 hingga 7.015, yang perlu ditembus untuk sedikit menetralisir derasnya tekanan jual.
Artikel Terkait
BSI Sediakan 600 Kursi Roda dan Layanan Digital untuk Jamaah Haji 2026
bank bjb Jalin Sinergi dengan PUSRI untuk Perkuat Layanan Perbankan Sektor Industri Strategis
Harga Emas Antam Stagnan di Rp2,839 Juta per Gram, Buyback Bertahan
Bocah SD Tewas Tertimpa Patung di Museum Ranggawarsita Semarang