Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai perdagangan Rabu (13/5/2026) dengan tekanan signifikan, merosot 1,53 persen ke level 6.751,74. Pelemahan ini terjadi seiring dengan pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang mencoret sejumlah saham dari indeks mereka, memicu aksi jual di pasar modal Indonesia.
Data perdagangan hingga pukul 09.07 WIB menunjukkan indeks terkoreksi lebih dalam, mencapai 1,55 persen ke posisi 6.752 atau turun 106,39 poin dibandingkan penutupan sebelumnya. Sepanjang sesi awal, IHSG bergerak fluktuatif dengan level tertinggi di 6.787 dan terendah di 6.741. Volume transaksi tercatat sebanyak 9,53 miliar saham dengan nilai mencapai Rp2,6 triliun, sementara pergerakan saham menunjukkan dominasi tekanan: 177 emiten menguat, 351 saham tertekan, dan 431 lainnya stagnan.
Dari sisi sektoral, tekanan terbesar berasal dari sektor bahan baku yang terkoreksi paling dalam, yakni 2,95 persen. Sektor infrastruktur menyusul dengan pelemahan 1,94 persen, diikuti sektor kesehatan yang turun 1,21 persen, sektor non-primer melemah 1,42 persen, dan sektor energi tertekan 1,17 persen. Sementara itu, sektor keuangan, primer, properti, dan teknologi masing-masing mencatat penurunan di bawah satu persen. Hanya dua sektor yang berhasil bertahan di zona hijau, yaitu sektor transportasi yang melonjak 3,26 persen dan sektor perindustrian yang menguat 0,82 persen.
Di tengah pelemahan ini, saham-saham yang masuk dalam daftar top losers mayoritas merupakan emiten yang dikeluarkan dari indeks MSCI. MSIN tertekan 14,07 persen ke Rp580, TPIA turun 13,27 persen ke Rp4.380, CUAN melemah 11,11 persen ke Rp840, MORA anjlok 10,78 persen ke Rp6.825, dan DSSA merosot 10,73 persen ke Rp1.040. Sebaliknya, beberapa saham justru mencatatkan penguatan signifikan. SWID memimpin daftar top gainers dengan kenaikan 26,85 persen, disusul KOPI yang naik 24,56 persen ke Rp284, ELPI bertambah 24,54 persen ke Rp2.030, KONI menanjak 20,91 persen ke Rp3.470, dan ALKA meningkat 18,92 persen ke Rp660.
Sebelumnya, MSCI mengumumkan perubahan konstituen indeks mereka yang berdampak langsung pada pasar saham Indonesia. Sejumlah emiten besar dikeluarkan dari indeks, antara lain PT Amman Mineral Internasional (AMMN), PT Barito Renewables Energy (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya (AMRT). Menariknya, meskipun dikeluarkan dari indeks utama, AMRT justru menjadi satu-satunya emiten Indonesia yang masuk dalam global small indeks.
Selain itu, dalam pengumuman MSCI Global Small Cap Indexes, setidaknya 13 saham Indonesia lainnya juga dicoret dari daftar konstituen. Emiten-emiten tersebut meliputi PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Astra Agro Lestari (AALI), PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI), PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA), PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN), PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM), PT Pacific Strategic Financial Tbk (APIC), PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), serta PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG). Keputusan MSCI ini menjadi salah satu faktor utama yang membebani sentimen pasar pada perdagangan hari ini.
Artikel Terkait
BSI Sediakan 600 Kursi Roda dan Layanan Digital untuk Jamaah Haji 2026
bank bjb Jalin Sinergi dengan PUSRI untuk Perkuat Layanan Perbankan Sektor Industri Strategis
Harga Emas Antam Stagnan di Rp2,839 Juta per Gram, Buyback Bertahan
Bocah SD Tewas Tertimpa Patung di Museum Ranggawarsita Semarang