Dengan arogansi AS yang kian kentara dan teknologi militernya yang hebat, perang semacam itu pasti akan berlangsung brutal. Semua cara mungkin dikerahkan. Mulai dari perang konvensional, proxy, hingga yang paling mengerikan: biologis, kimia, bahkan nuklir. Dampaknya? Sungguh sulit dibayangkan.
Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Di sisi hubungan luar negeri, kita harus jeli membaca dinamika geopolitik. Prinsip bebas aktif memang jadi pegangan. Namun begitu, kalau kita terlalu akrab dengan negara yang akhirnya kalah, risikonya besar. Bisa-bisa kita diisolasi, dijauhi oleh komunitas global.
Di sisi lain, ada hal yang lebih mendesak untuk dipikirkan: kesiapan kita sendiri. Perang multidimensi itu bentuknya macam-macam. Sudah siapkah rakyat menghadapi kondisi darurat? Misalnya, saat pasokan makanan terhambat, energi sulit, transportasi dan komunikasi lumpuh.
Belum lagi ancaman wabah penyakit atau kerusuhan sosial dimana saling curiga merajalela. Konflik bisa muncul di antara kita sendiri.
Memang, kita adalah bangsa yang cinta damai. Tapi, mengantisipasi dampak perang besar bukan berarti kita ingin perang. Ini soal kewaspadaan. Persiapan harus dimulai dari sekarang, sebelum semuanya terlambat.
Artikel Terkait
Kambeng-kambeng, Gorengan Pisang Manis Khas Bugis-Makassar
Rekomendasi Es Buah Sehat untuk Buka Puasa, Cegah Dehidrasi
Polres Bone Bubarkan Balap Liar Subuh, 30 Motor Diamankan
Bandara Arung Palakka Resmi Buka Rute Langsung ke Morowali