Ketua DPRD DKI Usulkan Mobile Training Unit untuk Perluas Jangkauan Pelatihan Kerja

- Kamis, 26 Februari 2026 | 14:15 WIB
Ketua DPRD DKI Usulkan Mobile Training Unit untuk Perluas Jangkauan Pelatihan Kerja

Jakarta – Upaya menekan angka pengangguran di ibu kota terus digodok. Salah satu gagasan yang mencuat datang dari Ketua DPRD DKI Jakarta, Khoirudin. Menurutnya, program pelatihan vokasi perlu dirombak agar lebih menjangkau. Caranya? Dengan mengoptimalkan konsep Mobile Training Unit atau MTU.

Gagasan ini sederhana tapi terasa tepat sasaran. Alih-alih menyuruh warga datang ke pusat pelatihan yang mungkin jauh, justru fasilitas pelatihanlah yang mendatangi mereka. “Semacam Mobile Training Unit. Tidak perlu datang ke sana, mobilnya yang datang ke sini untuk memudahkan,” ujar Khoirudin, Kamis (26/2/2026).

Ia punya alasan kuat. Kapasitas Pusat Pelatihan Kerja Daerah (PPKD) yang ada saat ini dinilai masih sangat terbatas. Faktanya, dalam satu PPKD saja, peminatnya bisa membludak hingga lebih dari 5.000 orang. Jelas, ini tak sebanding dengan daya tampung yang ada.

“Kalau kapasitasnya tidak pernah ditingkatkan, jumlah peserta tidak akan bertambah dan pengangguran tidak akan berkurang,” tegasnya.

Tekanan itu kian nyata. Setiap tahun, angkatan kerja baru terus berdatangan lulusan SMA, SMK, hingga perguruan tinggi membanjiri pasar tenaga kerja. Khoirudin merasa pemerintah daerah harus lincah, harus lebih cepat. “Kita harus adu cepat antara pelatihan yang kita lakukan agar mereka bisa diserap di dunia kerja dengan angkatan kerja baru yang terus tumbuh,” katanya.

Di sisi lain, pelatihan keterampilan memang masih jadi solusi jangka pendek yang paling realistis. Namun, Khoirudin menekankan, program ini harus diperluas jangkauannya. Caranya? Melalui kolaborasi. “Pelatihan bisa berkolaborasi dengan berbagai pihak, asal ada kebijakan dan perintah dari gubernur. Ada keterbatasan birokrasi yang harus kita tembus,” jelasnya.

Soal pendanaan, ia punya usul. Selain anggaran daerah, dana CSR perusahaan swasta bisa dimanfaatkan untuk membiayai program-program pelatihan ini. Ia ingin anggaran benar-benar berpihak pada kebutuhan pencari kerja.

Sebagai langkah awal yang konkret, Khoirudin berencana menghadirkan pelatihan langsung ke masyarakat. Misalnya, pelatihan jadi barista atau membuat roti. “Nanti saya juga akan mengundang food truck barista dan pelatihan pembuatan roti. Siapa pun yang ingin belajar membuka usaha barista atau kafe bisa ikut,” ujarnya penuh semangat.

Namun begitu, persoalan tak cuma ada di dalam negeri. Khoirudin juga menyoroti peluang kerja ke Jepang yang katanya masih membutuhkan sekitar 15.000 tenaga kerja. Sayangnya, kuota dari beberapa wilayah Jakarta masih sangat kecil. Ini jadi pekerjaan rumah lain yang harus segera dituntaskan.

Pada akhirnya, ia menegaskan satu hal. Penyediaan lapangan kerja bukan cuma tugas pemerintah. Swasta pun punya peran besar. “Kalau swasta saja bisa menyerap banyak tenaga kerja, kenapa pemerintah tidak,” tandasnya. Pertanyaan itu menggantung, menunggu realisasi.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar