Locatelli: Saya Hampir Menangis Usai Juventus Tersingkir dari Liga Champions

- Kamis, 26 Februari 2026 | 14:15 WIB
Locatelli: Saya Hampir Menangis Usai Juventus Tersingkir dari Liga Champions

Suasana di Allianz Stadium, Turin, malam itu benar-benar mencekam. Juventus baru saja tersingkir dari Liga Champions setelah drama babak perpanjangan waktu melawan Galatasaray. Dan di tengah kerumunan, Manuel Locatelli mengaku hampir tak kuasa menahan air mata. "Saya jujur merasa seperti ingin menangis," ujarnya.

Misi mereka memang terlihat mustahil sejak awal. Kekalahan telak 2-5 di Istanbul membuat Juventus butuh keajaiban di kandang sendiri. Namun, harapan itu sempat menyala. Locatelli sendiri yang membuka skor lewat titik putih, memberi sinyal bahwa comeback mungkin saja terjadi.

Namun begitu, segalanya berubah drastis di menit ke-48. Lloyd Kelly mendapat kartu merah, memaksa Juventus bertahan dengan sepuluh pemain selama sisa pertandingan. Tekanan dari tim asal Turki itu pun semakin menjadi-jadi.

Meski timpang, Juventus malah menunjukkan gigi. Gol dari Federico Gatti dan Weston McKennie benar-benar memaksa pertandingan masuk ke babak tambahan waktu. Bahkan, Edon Zhegrova punya peluang emas untuk mengakhiri drama lebih cepat. Tapi, bola gagal masuk.

Di sisi lain, keunggulan jumlah pemain akhirnya berbicara. Galatasaray memanfaatkannya dengan sempurna lewat dua gol telat dari Victor Osimhen dan Baris Alper Yilmaz. Agregat akhir 7-5 mengantarkan mereka ke 16 besar, sekaligus mengubur harapan Juventus.

Yang menarik, meski hasil tak berpihak, sorak pendukung Juventus tak pernah padam. Mereka memberikan aplaus panjang untuk perjuangan anak asuh Massimiliano Allegri yang bertahan dengan sepuluh pemain lebih dari satu jam. Atmosfer itu yang kemudian menjadi penghibur di tengah kekecewaan.

“Kami memberikan hati dan jiwa kami untuk pertandingan ini, bahkan lebih dari itu,” ungkap Locatelli kepada Amazon Prime Video Italia, suaranya terdengar bergetar. “Sebuah insiden membuat semuanya lebih rumit di leg pertama, tapi hari ini saya ingin berterima kasih kepada semua orang dari lubuk hati terdalam."
“Suasana di stadion luar biasa, ini adalah malam-malam yang akan selalu diingat. Kami menyerap energi dari mereka yang kami butuhkan.”

Penampilan keras kepala Juventus malam itu seperti jawaban atas kritik yang sering dilayangkan kepada mereka musim ini: soal kurangnya semangat juang. Mereka membantahnya dengan cara yang paling melelahkan, meski akhirnya kalah juga.

“Ini adalah Juventus yang ingin kami lihat, dan yang harus selalu kami jadi,” tegas Locatelli. “Kami berada di jalur yang benar dan tidak boleh kehilangan keyakinan."

Memang ada momen-momen yang menyayat hati. Seperti saat Khephren Thuram terlihat menangis di pinggir lapangan, mungkin karena emosi campur aduk usai gol penyama kedudukan. Tapi bagi Locatelli, yang terpenting adalah apresiasi untuk usaha maksimal itu.

“Saya pikir kami hanya bisa memuji para pemain malam ini atas usaha mereka, kesalahan bisa saja terjadi. Sekarang kami punya pertandingan penting lainnya melawan Roma dan harus fokus ke sana.”

Dengan pintu Liga Champions tertutup, fokus kini beralih sepenuhnya ke Serie A. Tantangan berikutnya adalah AS Roma. Pertanyaannya, apakah Juventus bisa mempertahankan intensitas dan jiwa tempur seperti yang mereka pamerkan malam yang penuh air mata itu? Hanya waktu yang bisa menjawab.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar