Rasanya, hampir tak ada yang bisa menampik kenikmatan daging wagyu. Teksturnya yang luar biasa lembut, ditambah dengan pola marbling yang indah, benar-benar terasa meleleh di mulut. Daging sapi premium asal Jepang ini memang punya daya pikatnya sendiri. Tapi, di balik kelezatannya, ada harga yang harus dibayar dan harganya itu tidak murah.
Karena harganya yang selangit, tak semua kalangan bisa merasakannya. Nah, di sinilah kemudian muncul alternatif yang lebih ramah di kantong: meltique beef. Daging ini tampilannya mirip wagyu, dengan harga jauh lebih terjangkau. Tapi, benarkah sama?
Menurut Chef Yuda Bustara, wagyu dengan harga murah meriah itu biasanya bukan yang asli.
"Sekarang banyak banget yang jual wagyu Rp100 ribu. Wagyu apa Rp100 ribu? Itu sebenarnya daging meltic, daging lokal yang disuntik minyak," ujar Yuda dalam sebuah acara di Jakarta.
Jadi, yang beredar luas itu adalah produk tiruan, atau sering disebut wagyu meltique. Pada dasarnya, ini adalah daging sapi lokal yang disuntik dengan lemak nabati, semacam minyak kanola, untuk meniru tampilan dan rasa wagyu.
Lalu, bagaimana cara membedakannya? Yuda bilang, lihat saja pola marbling-nya. Pada wagyu asli, lemak itu tersebar dengan rapi, membentuk garis-garis alami di dalam serat daging. Polanya indah dan natural.
Sementara di meltique beef, kondisinya berbeda. Marbling-nya cenderung acak-acakan dan tidak beraturan. Bahkan, lemaknya seringkali terlihat jauh lebih dominan, sampai-sampai warna dagingnya tampak lebih putih.
"Kalau meltic itu marbling-nya acak dan lemaknya kebanyakan, sampai dagingnya putih banget," jelasnya.
Perbedaannya juga sangat terasa di lidah. Kata Yuda, meltique beef seringkali memberikan rasa enek meski cuma dimakan sedikit. Rasa gurihnya terlalu kuat dan 'berat'.
"Kalau meltic, makan sedikit saja sudah enek. Lemaknya terlalu rich. Kalau wagyu asli, lemaknya natural dari sapi, rasanya lebih ringan dan enak dimakan," katanya.
Nah, bagi konsumen Muslim, ada hal lain yang perlu jadi perhatian serius: soal kehalalan. Proses penyuntikan lemak ini menciptakan beberapa titik kritis. Pertama, sumber dagingnya harus dari sapi yang disembelih secara syar'i. Kalau asalnya tidak jelas, statusnya jadi diragukan.
Kedua, lemak atau minyak yang disuntikkan harus berasal dari bahan yang halal. Minyak nabati atau lemak sapi halal boleh, tapi lemak babi jelas haram. Ketiga, bahan-bahan tambahan lain seperti pengawet atau pewarna juga harus dipastikan kehalalannya.
Yang keempat, proses produksinya sendiri. Peralatan dan areanya harus bersih, bebas dari kontaminasi bahan-bahan yang tidak halal.
Lantas, Aman Nggak Sih Dikonsumsi?
Dari segi keamanan pangan, meltique beef sebenarnya dinilai aman. Lemak yang dipakai, seperti minyak kanola, termasuk bahan yang diizinkan selama penggunaannya tidak berlebihan. Produk ini juga biasanya sudah melewati pengujian badan pengawas sebelum dijual ke pasaran. Sampai saat ini, belum ada laporan besar soal efek samping yang serius dari mengonsumsinya.
Tujuannya memang cuma untuk mempercantik tampilan dan membuat tekstur daging lebih empuk, tanpa menambahkan zat berbahaya atau mengubah nutrisi secara drastis.
Tapi, tetap saja, konsumsinya harus dibatasi. Lemak intramuskular dalam daging seperti ini sebaiknya dimakan dalam porsi yang wajar, sebagai bagian dari pola makan seimbang. Kalau kebanyakan, risikonya tetap ada, bisa memicu masalah metabolik atau gangguan jantung.
Intinya, dengan tahu perbedaan mendasar antara wagyu asli dan meltique, kita bisa lebih cerdas memilih. Sesuaikan dengan kebutuhan, selera, dan tentu saja, pertimbangan kesehatan. Pilihlah daging berkualitas, perhatikan asupan kalori, dan jangan tergiur hanya oleh harga murah dan tampilan yang menggiurkan.
Artikel Terkait
Prajurit Prancis UNIFIL Gugur di Lebanon Selatan Usai Serangan April Lalu
Prabowo dan Albanese Sepakati Ekspor Pupuk Urea 250.000 Ton ke Australia
Kejagung Gelar Lelong Mobil Mewah Hasil Sitaan Korupsi di BPA Fair 2026
Satgas Polres Tangsel Amankan 10 Tersangka dan 22 Motor dalam Operasi Pemberantasan Curanmor