Prabowo dan Albanese Sepakati Ekspor Pupuk Urea 250.000 Ton ke Australia

- Kamis, 23 April 2026 | 04:40 WIB
Prabowo dan Albanese Sepakati Ekspor Pupuk Urea 250.000 Ton ke Australia

Presiden Prabowo Subianto menerima telepon dari Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, pada Selasa lalu. Percakapan itu berlangsung cukup hangat, membahas berbagai isu yang sedang menghangat di panggung dunia.

Lewat unggahan di akun X-nya, Albanese mengungkapkan topik pembicaraan mereka. Fokusnya adalah perkembangan global, terutama situasi di Timur Tengah yang mencekam dan bagaimana dampaknya merambat ke kawasan Asia Pasifik. Di tengah gejolak itu, kedua pemimpin sepakat untuk menjaga stabilitas di rumah masing-masing.

“Australia dan Indonesia bekerja sama untuk mendukung kelancaran arus barang-barang kebutuhan pokok, serta memperkuat ketahanan rantai pasokan energi kita untuk masa depan,” kata Albanese.

Komitmen itu jelas bukan sekadar wacana. Mereka bertekad memastikan pasokan kebutuhan pokok untuk masyarakat domestik tetap aman dan tidak terganggu.

Di sisi lain, ada kabar baik yang patut disyukuri. Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, menyebutkan bahwa PM Albanese secara khusus menyampaikan terima kasih kepada Presiden Prabowo. Rupanya, Indonesia baru saja menyetujui ekspor tahap pertama pupuk urea ke Australia, dengan volume mencapai 250.000 ton.

“PM Albanese menyampaikan apresiasi atas persetujuan Bapak Presiden terkait ekspor pupuk urea Indonesia ke Australia sebesar 250.000 ton pada tahap pertama,” jelas Teddy dalam keterangannya, Rabu (22/4/2026).

Menurut Albanese, hubungan baik kedua negara saat ini justru semakin krusial. Kerja sama seperti ini adalah buktinya.

Soal pupuk, kapasitas kita ternyata cukup berlebih. Data dari Kementerian Pertanian menunjukkan produksi urea nasional menyentuh angka 7,8 juta ton. Sementara itu, kebutuhan dalam negeri 'hanya' sekitar 6,3 juta ton. Nah, kelebihan itu tak cuma untuk Australia. Rencananya, Indonesia juga akan mengirimkan pupuk urea ke sejumlah negara lain seperti India, Filipina, Thailand, dan Brasil. Total komitmen ekspornya kurang lebih 1 juta ton.

Pertemuan baik langsung maupun lewat sambungan telepon antara Prabowo dan Albanese memang sudah beberapa kali terjadi sejak pemerintahan baru dimulai. Frekuensi itu tampaknya mempererat hubungan diplomatik yang sudah terjalin lama. Dari pertemuan-pertemuan itulah lahir beberapa nota kesepahaman dan kerja sama strategis di berbagai sektor antara Jakarta dan Canberra.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar