Harga emas bangkit lagi di tengah ketegangan geopolitik yang belum usai. Setelah sempat terpuruk ke level terendah dalam lebih dari seminggu, logam kuning itu kembali menguat pada Rabu (22/4/2026). Aksi beli saat harga turun atau bargain hunting jadi pendorong utamanya, sementara para investor mencermati kemungkinan pembicaraan damai AS-Iran yang masih mengambang.
Emas spot bertengger di angka USD 4.740,45 per ons, naik 0,42 persen. Padahal, di awal sesi kenaikannya sempat menyentuh 1 persen. Pergerakan ini terjadi setelah sehari sebelumnya, Selasa (21/4), emas mengalami penurunan harian terbesar sejak akhir Maret. Kontrak berjangka AS untuk pengiriman Juni juga ikut naik, ditutup 0,7 persen lebih tinggi di level USD 4.753,00.
Jim Wyckoff, analis senior Kitco Metals, melihat pola yang sama. "Aksi beli murah setelah penurunan pada Selasa juga terlihat di pasar logam mulia seperti emas dan perak," katanya, seperti dikutip Reuters.
Namun begitu, situasi di lapangan justru memanas. Di Selat Hormuz, Iran dilaporkan menyita dua kapal pada hari yang sama. Langkah ini tentu menambah daftar panjang ketegangan di kawasan itu.
Dari Washington, Presiden AS Donald Trump bersikukuh bahwa blokade terhadap Iran akan tetap berjalan. Sumber dalam yang mengetahui perkembangan ini menyebut, belum ada jadwal pasti untuk gencatan senjata. Sampai sekarang, belum ada tanda-tanda nyata perundingan damai akan segera dimulai kembali.
Tekanan juga datang dari front lain. Gencatan senjata antara Israel dan Lebanon terancam bubar setelah serangan drone Israel menewaskan sedikitnya tiga orang di Lebanon.
Lalu, bagaimana semua ini mempengaruhi emas? Bart Melek, kepala strategi komoditas global TD Securities, punya analisisnya. Menurutnya, harga emas mendapat sedikit dukungan dari harapan bahwa situasi di Selat Hormuz bisa mereda pasca pernyataan Trump. Tapi jangan salah, Melek menekankan bahwa kondisinya tetap rapuh dan penuh ketidakpastian. Satu berita buruk bisa dengan cepat mengubah arah pasar.
Perlu diingat, sejak perang AS-Israel melawan Iran pecah pada 28 Februari lalu, harga emas justru sudah anjlok sekitar 11 persen. Ironisnya, kenaikan harga minyak yang memicu kekhawatiran inflasi turut andil di sini. Emas memang dikenal sebagai lindung nilai inflasi, tapi ketika suku bunga naik, daya tarik aset tanpa imbal hasil seperti emas cenderung memudar.
Isu suku bunga ini sendiri masih jadi teka-teki. Calon Ketua The Fed, Kevin Warsh, pada Selasa lalu menyatakan tidak memberikan janji apa pun kepada Trump soal penurunan suku bunga. Di hadapan senator AS, dia menegaskan akan menjaga independensinya dari Gedung Putih, sambil mendorong reformasi yang lebih luas.
Sementara emas berjuang, logam mulia lainnya justru menunjukkan performa yang lebih cemerlang. Perak spot melonjak 1,4 persen ke USD 77,80 per ons. Platinum juga ikut meroket, menguat 2,1 persen ke level USD 2.079,80. Paladium tak mau ketinggalan, naik 1,3 persen menjadi USD 1.553,43.
Pasar tampaknya masih mencari arah yang jelas. Di satu sisi, ada sentimen geopolitik yang mendorong safe-haven. Di sisi lain, bayang-bayang kebijakan moneter yang ketat masih membebani. Untuk sekarang, emas sepertinya hanya mampu melakukan rebound, belum benar-benar pulih.
Artikel Terkait
Accola Sport Centre Serpong Dibangun di Lahan 1,4 Hektare, Targetkan Operasional September 2026
Laporan JP Morgan: Indonesia Peringkat Kedua Dunia untuk Ketahanan Energi
Garuda Indonesia Pangkas Kerugian Hampir 40% di Kuartal I 2026
BEI Soroti Rencana Dividen Rp564 Miliar MDS Retailing, Ekuitas Dikhawatirkan Negatif