Di sinilah kita perlu paham, bahwa penilaian dan pembinaan adalah dua fungsi yang berbeda. Penilaian memang diperlukan untuk menjaga akuntabilitas. Tapi tanpa pembinaan dan penguatan kapasitas yang berkelanjutan, penilaian cuma akan menghasilkan label kosong bukan perubahan yang berarti.
Mutu sejati itu tumbuh dari dalam. Ia lahir saat sebuah perpustakaan mampu mengelola dirinya sendiri: menyusun prosedur kerja, mengevaluasi layanan dengan jujur, memperbaiki kekurangan, dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan penggunanya. Proses semacam ini tidak instan dan seringkali tak terlihat dalam satu siklus penilaian saja.
Karena itu, sistem yang sehat adalah yang tidak cuma rajin menilai, tapi juga serius membangun kapasitas.
Butuh Ekosistem, Bukan Cuma Akreditasi
Perpustakaan yang hidup butuh ekosistem yang mendukung. Peran pembina diperlukan untuk membantu membangun pemahaman dan kemampuan. Penilai hadir untuk memastikan akuntabilitas dari luar. Lalu, ada juga fungsi analisis yang membaca data secara mendalam, untuk memahami pola keberhasilan dan kegagalan.
Kalau salah satu fungsi ini berdiri sendiri, mutu akan pincang. Penilaian tanpa pembinaan cuma melahirkan kepatuhan semu yang temporer. Pembinaan tanpa evaluasi berisiko kehilangan arah. Sementara analisis tanpa tindak lanjut, ya cuma akan berakhir jadi laporan yang menumpuk.
Ekosistem mutu menuntut kerja sama yang saling melengkapi, bukan saling menggantikan.
Kembalikan Mutu pada Apa yang Dirasakan Pengguna
Pada akhirnya, masyarakat biasa tak pernah peduli berapa nilai akreditasi perpustakaan di kotanya. Yang mereka rasakan jauh lebih sederhana: apakah perpustakaan itu berguna? Ramah? Relevan dengan kebutuhannya? Apakah ia hadir dalam kehidupan sehari-hari? Membantu anak belajar membaca, memudahkan mahasiswa meneliti, atau menjadi tempat masyarakat mengakses pengetahuan.
Kalau perpustakaan berstatus "A" tapi sepi pengunjung, berarti sudah ada yang keliru dalam cara kita memaknai mutu.
Angka itu penting, tapi ia tak pernah cukup. Mutu bukan cuma soal hasil penilaian. Ia adalah proses kelembagaan yang terus dibangun, dijaga, dan ditingkatkan. Tanpa kesadaran ini, kita akan tetap terjebak dalam ilusi merasa sudah bermutu, padahal yang tumbuh subur hanya administrasinya.
Dan dalam urusan layanan publik, ilusi semacam itu adalah kemewahan yang terlalu mahal untuk kita pelihara terus-menerus.
Artikel Terkait
Kembang Api dan Teriakan untuk Pahlavi Warnai Malam Teheran yang Masih Bergejolak
Gemblengan Semi-Militer Siapkan 1.500 Petugas Haji Tangguh
Pramono Anung Tegaskan JPO Sarinah Akan Dibangun Kembali, Utamakan Akses Difabel
Indonesia dan Turki Sepakati Aksi Nyata, Dari Gaza hingga Industri Pertahanan