Jadi, stabilitas administratif dibeli dengan harga mahal: pengorbanan konsistensi norma. Demokrasi terpaksa ditunda demi ketertiban. Sekali lagi, Amerika dihadapkan pada pilihan sulit antara nilai dan kepentingan.
Dampaknya di pasar minyak global langsung terasa. Embargo total ke Venezuela bikin goncangan pasokan minyak berat bahan baku vital untuk kilang-kilang di AS dan Asia. Kontrak-kontrak lama dengan Tiongkok dan Rusia statusnya jadi abu-abu, menambah ketidakpastian hukum dan risiko. Janji bahwa minyak akan mengalir deras di masa depan ternyata tak cukup menenangkan pasar. Mereka justru lebih khawatir dengan isu sabotase, keamanan infrastruktur, dan tentu saja, instabilitas politik yang berkepanjangan.
Bagi Moskow dan Beijing, intervensi ini jelas sebuah provokasi. Tiongkok kemungkinan akan mengambil langkah hukum dan ekonomi untuk melindungi utang mereka yang ditanam di Venezuela. Sementara Rusia punya kepentingan strategis untuk memastikan kemenangan AS tidak murah harganya. Dukungan diam-diam untuk loyalis lama atau eskalasi asimetris jadi opsi yang sangat mungkin diambil.
Di tingkat regional, Amerika Selatan pun ikut gempar. Kolombia was-was menghadapi ancaman kelompok bersenjata lintas batas yang mungkin makin kuat, plus gelombang pengungsi baru. Brasil dihantui dilema: butuh stabilitas energi, tapi juga cemas dengan kehadiran militer asing di dekat kawasan Amazon. Yang paling menakutkan, kawasan ini dihantui bayangan "Somalialisasi" Venezuela negara yang terfragmentasi jadi wilayah-wilayah kekuasaan panglima perang, sarang kriminalitas transnasional, dan sumber instabilitas kronis.
Pada akhirnya, penangkapan Maduro cuma kemenangan taktis sesaat. Beban strategis yang sesungguhnya baru saja dimulai. Keberhasilan Amerika nanti tidak akan diukur dari jatuhnya satu orang, tapi dari kemampuan mereka membangun tatanan yang berkelanjutan: hukum, fiskal, keamanan, di tengah tekanan dari dalam dan luar negeri. Tanpa arah transisi yang jelas dan tanpa pencabutan sanksi yang terencana, Venezuela berisiko menjadi luka geopolitik terbuka. Luka yang akan terus menginfeksi stabilitas Amerika Latin untuk tahun-tahun panjang ke depan.
Artikel Terkait
Pramono Anung Tegaskan JPO Sarinah Akan Dibangun Kembali, Utamakan Akses Difabel
Indonesia dan Turki Sepakati Aksi Nyata, Dari Gaza hingga Industri Pertahanan
Prajurit Gugur di Nduga, Ayah Banggakan Tekad Baja Anaknya yang Tak Pernah Menyerah
Megawati Bikin Heboh, Nyanyikan Cinta Hampa di Panggung Rakernas PDIP