Suasana di rumah duka di Kelurahan Oepura, Kupang, Sabtu lalu, benar-benar mengharu biru. Isak tangis pecah saat peti jenazah Praka Satria Taopan akhirnya tiba. Prajurit berusia 29 tahun itu gugur di Nduga, Papua Pegunungan, setelah diterjang peluru kelompok bersenjata. Ia pulang untuk terakhir kalinya, dibalut bendera Merah Putih.
Kedukaan itu begitu pekat. Sang ayah dan ibu tampak hancur, tak kuasa menahan derai air mata. Mereka memeluk peti jenazah putra sulung mereka, pelukan perpisahan yang berat. Di tengah para pelayat yang berdatangan, sang ayah mencoba bercerita. Ia ingin mengingat perjuangan anaknya, bukan hanya kesedihan kepergiannya.
Dengan suara yang gemetar namun penuh kebanggaan, ia mengisahkan tekad baja Satria. Mimpi menjadi prajurit TNI itu tidak diraih dengan mudah. Bukan sekali dua kali ia mencoba.
“Dia tidak pernah menyerah. Sembilan kali ikut tes, dia tetap berjuang sampai akhirnya lulus dan mengabdi sebagai tentara. Kami bangga, meski sangat kehilangan,”
kata sang ayah, mengenang perjalanan panjang anaknya. Semangat pantang menyerah itulah yang kini menjadi warisan berharga bagi keluarga. Sebuah warisan yang dibayar dengan harga yang sangat mahal.
Menurut keterangan dari Satgas Pamtas, insiden naas ini terjadi pada Kamis pagi, sekitar pukul delapan waktu setempat. Saat itu, Satria sedang bertugas mengamankan pengantaran logistik makanan via helikopter di daerah Yuguru.
Kapten Infanteri Despa, perwakilan Satgas, menjelaskan situasinya.
“Almarhum gugur saat melaksanakan pengamanan pengantaran logistik makanan bagi prajurit menggunakan helikopter. Dalam perjalanan, helikopter mendapat serangan dari Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB),”
jelasnya. Serangan itu terjadi mendadak. Praka Satria Taopan terkena tembakan dan meninggal dunia di tempat, saat sedang menjalankan tugas negara.
Di sisi lain, Komandan Kodim setempat, Kolonel Infanteri Kadek Abriawan, menegaskan bahwa Satria adalah salah satu putra terbaik bangsa. Dedikasinya di wilayah rawan patut dihormati.
“Almarhum adalah prajurit terbaik kami. Ia telah melaksanakan tugas negara dengan maksimal dan penuh dedikasi. Atas pengabdiannya, TNI akan memakamkan almarhum secara kedinasan militer,”
tegasnya. Ia juga mengajak masyarakat untuk turut mendoakan dan menguatkan keluarga yang ditinggalkan.
Sebagai penghormatan terakhir, jenazah almarhum rencananya akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Darmaloka, Kota Kupang, pada hari Minggu. Sebuah prosesi perpisahan yang layak untuk seorang pahlawan yang pulang dengan membawa luka, namun juga membawa kehormatan.
Artikel Terkait
Kapten Marseille Leonardo Balerdi Cedera Betis, Tinggalkan Pemusatan Latihan Timnas Argentina
Rachel/Febi Gagal ke Final Usai Dikalahkan Unggulan Pertama China di Semifinal Indonesia Open 2026
Timnas Voli Putri Indonesia Kalahkan Iran 3-1 di Laga Perdana AVC Cup 2026
Jonatan Christie Akhirnya Tembus Final Indonesia Open 2026, Hadapi Kejutan Asal Kanada