Suasana di rumah duka di Kelurahan Oepura, Kupang, Sabtu lalu, benar-benar mengharu biru. Isak tangis pecah saat peti jenazah Praka Satria Taopan akhirnya tiba. Prajurit berusia 29 tahun itu gugur di Nduga, Papua Pegunungan, setelah diterjang peluru kelompok bersenjata. Ia pulang untuk terakhir kalinya, dibalut bendera Merah Putih.
Kedukaan itu begitu pekat. Sang ayah dan ibu tampak hancur, tak kuasa menahan derai air mata. Mereka memeluk peti jenazah putra sulung mereka, pelukan perpisahan yang berat. Di tengah para pelayat yang berdatangan, sang ayah mencoba bercerita. Ia ingin mengingat perjuangan anaknya, bukan hanya kesedihan kepergiannya.
Dengan suara yang gemetar namun penuh kebanggaan, ia mengisahkan tekad baja Satria. Mimpi menjadi prajurit TNI itu tidak diraih dengan mudah. Bukan sekali dua kali ia mencoba.
kata sang ayah, mengenang perjalanan panjang anaknya. Semangat pantang menyerah itulah yang kini menjadi warisan berharga bagi keluarga. Sebuah warisan yang dibayar dengan harga yang sangat mahal.
Menurut keterangan dari Satgas Pamtas, insiden naas ini terjadi pada Kamis pagi, sekitar pukul delapan waktu setempat. Saat itu, Satria sedang bertugas mengamankan pengantaran logistik makanan via helikopter di daerah Yuguru.
Artikel Terkait
Gubernur Anung Pramono Tegaskan Jakarta Masih Bebas dari Ancaman Super Flu
Kepala Pajak yang Baru Dilantik Sri Mulyani Diciduk KPK, Pajak Rp75 Miliar Dipotong Jadi Rp15 Miliar
Agama atau Bius Massal? Ketika Ibadah Hanya Menenangkan, Bukan Membela
Presiden Prabowo Hadiri Peresmian Sekolah Rakyat, Siswa dari Seluruh Nusantara Siap Tampil