Anggaran dan Kualitas Menu Makanan Bergizi Gratis Ramadan Dipertanyakan, BGN Beri Penjelasan

- Rabu, 25 Februari 2026 | 18:10 WIB
Anggaran dan Kualitas Menu Makanan Bergizi Gratis Ramadan Dipertanyakan, BGN Beri Penjelasan

Menu Makan Bergizi Gratis (MBG) selama Ramadan ramai jadi perbincangan. Banyak yang protes, karena isinya dinilai tak sesuai dengan anggaran yang digembar-gemborkan. Yahya Zaini, Wakil Ketua Komisi IX DPR, pun angkat bicara. Dia mendesak Badan Gizi Nasional untuk segera turun tangan.

“Yang jadi sorotan masyarakat, menu Ramadan ini harganya ditaksir cuma sekitar Rp 8.000,” ujar Yahya kepada wartawan, Rabu lalu.

Padahal, anggaran untuk makanannya sendiri sebenarnya Rp 10 ribu per porsi. Lho, kok beda? Yahya menjelaskan rinciannya. Anggaran total per paket memang Rp 15 ribu. Namun, dari angka itu, Rp 2.000 dialokasikan untuk insentif yayasan, Rp 3.000 untuk biaya operasional, dan sisanya Rp 10 ribu baru benar-benar untuk bahan makanan.

“Masyarakat sudah bisa menghitung sendiri,” sambungnya. Paket yang berisi roti kering, kurma, telur, susu, dan pisang itu nilainya dianggap jauh dari angka sepuluh ribu. Akibatnya, banyak orang tua yang kecewa. Mereka protes karena kecukupan gizinya berkurang. Bahkan, tak sedikit yang sampai menolak menerima bantuan tersebut.

Menurut Yahya, situasi ini tak boleh dibiarkan. Dia mendesak BGN untuk segera turun ke lapangan. Tujuannya jelas: memastikan kualitas dan keamanan makanan tetap terjaga selama bulan puasa. “Tidak boleh berkurang sedikit pun,” tegasnya.

Apalagi, MBG ini dibagikan tiga hari sekali. Yahya menekankan, jika ada dapur penyedia atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang nakal dan melanggar standar, harus diberi sanksi tegas. “Mulai dari teguran sampai pemberhentian sementara,” ucapnya.

Di sisi lain, Yahya juga mengingatkan dampak sosialnya. Gangguan dan protes dari warga berpotensi mengganggu kekhusyukan ibadah puasa. “Saya minta BGN ikut menjaga ketenteraman orang-orang yang berpuasa,” tuturnya.

Protes serupa sebelumnya viral dari seorang guru SD di Palu, Sulawesi Tengah. Lewat sebuah video, sang guru menyayangkan menu yang diterima anak didiknya. Merespons hal ini, Wakil Gubernur Sulteng, Reny A Lamadjido, turun langsung berkoordinasi dengan pengelola dapur MBG.

“Saya mengapresiasi ibu guru. Kepedulian beliau patut kita hargai,” kata Reny. Dia menegaskan, perhatian ini penting agar anak-anak benar-benar mendapat asupan gizi yang sesuai.

Klaim dan Bantahan dari BGN

Lantas, bagaimana tanggapan pihak berwenang? Badan Gizi Nasional akhirnya buka suara. Mereka membantah anggaran bahan makanan MBG selama Ramadan sebesar Rp 15 ribu per porsi.

“Kami ingatkan kembali,” kata Nanik S Deyang, Wakil Kepala Badan Bidang Komunikasi dan Investigasi BGN. Menurutnya, anggaran untuk bahan makanannya memang ditetapkan antara Rp 8.000 hingga Rp 10.000, tergantung kelompok penerima.

Untuk balita hingga siswa kelas 3 SD, anggarannya Rp 8.000 per porsi. Sementara untuk anak kelas 4 SD ke atas hingga ibu menyusui, nilainya Rp 10.000. Anggaran total yang lebih besar, yakni Rp 13 ribu atau Rp 15 ribu, sudah mencakup biaya operasional dan insentif mitra pelaksana. Jadi, bukan semata-mata untuk belanja bahan baku.

Namun begitu, penjelasan ini tampaknya belum sepenuhnya meredam kekecewaan. Di lapangan, kesan “kurang” itu masih terasa. Dan desakan untuk pengawasan yang lebih ketat terus bergema.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar