Di tengah situasi darurat bencana, kecepatan mengirimkan bantuan pangan seringkali jadi penentu. Itulah yang mendasari aksi PT Banjarnegara Agro Mandiri Sejahtera (BAMS) mengirimkan seribu paket makanan siap saji ke Aceh Tamiang, Aceh, beberapa waktu lalu. Perusahaan yang berdiri di Banjarnegara, Jawa Tengah, sejak 2013 itu mengirimkan bantuannya langsung pada pertengahan Januari lalu.
Bantuan itu disalurkan untuk para penyintas di daerah yang terdampak. Menariknya, PT BAMS ini didirikan di daerah pemilihan anggota DPR RI Bambang Soesatyo, atau yang akrab disapa Bamsoet.
Bamsoet sendiri mengungkapkan pentingnya kecepatan distribusi logistik pangan dalam fase tanggap darurat. Menurutnya, ini menyangkut daya tahan fisik dan psikologis orang-orang yang terdampak.
“Dalam situasi bencana, distribusi pangan harus bergerak cepat karena itu menyangkut daya tahan fisik dan psikologis para penyintas. Kita tidak bisa menunggu sistem dapur umum berdiri sempurna sementara warga sudah berhari-hari berada di pengungsian,” kata Bamsoet.
Pernyataan itu disampaikannya usai menerima direksi PT BAMS di Jakarta, Selasa (24/2). Bamsoet melihat, data BNPB menunjukkan intensitas bencana hidrometeorologi di Indonesia terus meningkat. Sepanjang 2025 saja, tercatat ribuan kejadian banjir, longsor, dan angin kencang. Wilayah seperti Aceh dan Sumatera Utara kerap masuk dalam daftar rawan.
Nah, masalahnya di lapangan seringkali rumit. Akses jalan terputus, distribusi macet, dan mendirikan dapur umum bukan perkara instan. Butuh peralatan, gas, air bersih, dan relawan.
“Kita harus realistis melihat kondisi di lapangan. Sementara korban membutuhkan asupan gizi saat itu juga. Karena itu, makanan siap saji berteknologi menjadi solusi strategis yang efektif,” tutur Bamsoet.
Di sinilah peran produk seperti dari PT BAMS dianggap strategis. Makanan siap saji itu dirancang khusus untuk situasi krisis. Cukup tambah air panas, langsung bisa dikonsumsi tanpa proses masak yang ribet. Pengemasannya memungkinkan makanan bertahan lama, tetap higienis, dan mudah dibawa dalam jumlah besar.
Konsep seperti ini memangkas rantai logistik yang biasanya panjang. Ketergantungan pada fasilitas dapur umum di lokasi bencana pun bisa ditekan.
“Kami ingin menghadirkan solusi konkret. Ketika akses jalan terputus dan sumber daya terbatas, bantuan pangan harus tetap bisa menjangkau korban. Produk ini dirancang agar praktis, aman, dan mampu menjaga kebutuhan kalori harian penyintas,” ujar Bamsoet.
Baginya, inovasi industri pangan semacam ini punya peran langsung dalam manajemen kebencanaan nasional. Dengan frekuensi bencana yang makin tinggi, model bantuan berbasis teknologi bisa jadi alternatif untuk mempercepat respons kemanusiaan. Pendekatan ini juga membuka peluang kolaborasi antara industri, relawan, dan pemerintah.
Bamsoet menutup dengan harapan ke depan. “Industri pangan harus hadir memberi solusi konkret saat negara menghadapi situasi darurat. Ke depan, kami akan memperkuat kapasitas produksi agar respons bantuan bisa menjangkau lebih banyak wilayah rawan bencana di Indonesia,” pungkasnya.
Artikel Terkait
China Serukan Gencatan Senjata Komprehensif di Kawasan Teluk dalam Pertemuan PBB
Polisi Tanggamus Tangkap Lima Pemburu Rusa Sambar di Kawasan Hutan Konservasi
Vinicius Junior Tegaskan Real Madrid Klub Impian, Tak Buru-buru Perpanjang Kontrak
TNI AL Temukan Kandungan Logam Tanah Jarang dan Unsur Radioaktif di 25 Kontainer Ilegal Batam