Pasar di desa Yoe Ngu, Rakhine, tiba-tiba berubah jadi neraka. Itu terjadi Selasa lalu, ketika jet-jet militer Myanmar melancarkan serangan udara. Akibatnya, sedikitnya 17 nyawa warga sipil melayang. Menurut laporan Tentara Arakan, kelompok oposisi bersenjata di wilayah itu, korban-korban itu adalah orang-orang tak bersalah yang sedang beraktivitas.
Namun begitu, angka pastinya masih simpang siur. Laporan terpisah dari Asosiasi Pemuda Ponnagyun (PYA), misalnya, menyebut korban tewas mencapai 18 orang.
Pyae Phyo Naing, ketua PYA, langsung bergegas ke lokasi setelah serangan mereda. Pemandangan yang ia saksikan sungguh memilukan.
"Situasinya sangat buruk, empat atau lima bangunan terbakar dan banyak bangunan hancur,"
Ia menggambarkan bagaimana serangan itu tak hanya merenggut nyawa, tapi juga memicu kobaran api yang menghanguskan kios-kios dan rumah.
Peristiwa berdarah ini cuma satu episode dalam konflik panjang yang melanda Myanmar. Sejak kudeta militer tahun 2021, negara itu terjerembab dalam perang sipil yang tak kunjung usai. Di satu sisi, junta militer berkuasa. Di sisi lain, mereka menghadapi perlawanan sengit dari berbagai kelompok bersenjata etnis dan gerilyawan pro-demokrasi. Rakhine, negara bagian di barat Myanmar, jadi salah satu medan pertempuran paling sengit.
Serangan ke pasar ini kembali menunjukkan betapa warga biasa yang selalu jadi korban. Hidup mereka terus diteror, terjepit di antara dua pihak yang bertikai.
Artikel Terkait
AS dan Iran Saling Tembak di Selat Hormuz, Ketegangan di Jalur Minyak Dunia Kembali Memuncak
Lurah di Pangkep Diduga Digerebek di Penginapan Bersama Staf Perempuan, Satpol PP: Tak Ada Bukti Pelanggaran Pidana
KPAI: Kasus Kekerasan Seksual di Pesantren Masuk Situasi Darurat, Pimpinan Padepokan di Pekalongan Jadi Tersangka
Polisi Ungkap Foto Pocong Bawa Parang Saat Mati Listrik di Siak Hanya Hoaks Buatan Siswa SMA