Imperium Kebebasan Tampil Beringas: AS Serbu Venezuela, Tatanan Dunia Ambruk

- Jumat, 09 Januari 2026 | 00:36 WIB
Imperium Kebebasan Tampil Beringas: AS Serbu Venezuela, Tatanan Dunia Ambruk

Nah, inilah pilihannya: realpolitik. Kebijakan luar negeri yang murni berdasar pada kekuatan dan kepentingan. Dunia agak asing dengan dogma ini, karena sudah satu abad lebih hidup dalam bayang-bayang Wilsonian. Hantu Bismarck dan Disraeli yang dulu tersingkir, kini kembali menampakkan diri.

Trump tak sungkan menegaskan kepentingan nasionalnya di Venezuela, terutama soal sumber daya. Maduro dianggapnya sebagai batu sandungan yang harus disingkirkan. Sejak era Theodore Roosevelt, belum ada pemimpin AS yang mengekspresikan Monroe Doctrine dengan unjuk kekuatan se-terang-terangan ini.

Aksi di Caracas itu adalah demonstrasi kekuatan oleh sebuah hyperpower. Sebuah adidaya global yang bertindak untuk mencapai tujuannya. Tak ada narasi moral yang membingkai. Yang ada cuma penegasan kepentingan. Sebuah langkah berani atau nekat dari sang "Kaisar" Imperium Kebebasan.

Akibatnya? Rimba raya anarki dunia kembali menguat. Ketika senjata yang berbicara, hukum internasional kehilangan tajinya. Setiap negara akan merasa tidak aman. Keamanan kolektif? Itu cerita lama. Pertanyaannya kini: kalau negara yang paling getol mencela realpolitik kini malah memakainya, apa alasan negara lain untuk tidak ikut-ikutan? Dunia bisa berubah jadi rimba persaingan kekuatan yang tak pasti ujungnya.

Tamat Sudah, Tatanan Internasional Liberal

Dan puncak dari semua ini adalah kematian tatanan internasional liberal berbasis aturan. AS yang dulu memperjuangkannya lewat dua Perang Dunia yang menghancurkan, kini justru berperan besar dalam merobohkannya. Ironi terbesar abad ke-21, mungkin.

Tatanan itu terwujud dalam PBB, dibangun di atas reruntuhan perang, dan diarsiteki oleh Amerika sendiri. Nama Wilson dan Franklin D. Roosevelt akan selalu melekat di sana.

Membangun tatanan berbasis aturan bukan perkara mudah. Awalnya penuh sinisme dan skeptisisme. Sulit sekali meyakinkan negara-negara berdaulat untuk mengikis sedikit kedaulatan mereka dan menyerahkannya pada organisasi dunia.

Tapi meski dicibir para kritikus realis, tatanan itu telah membawa delapan dekade perdamaian relatif. Setidaknya, unjuk kekuatan telanjang akan berhadapan dengan kecaman moral. Ratusan resolusi PBB jadi buktinya. Sistem ini berjalan di bawah kepemimpinan AS.

Sekarang? Saat AS sendiri menginjak-injak hukum internasional, menginvasi negara berdaulat, dan menangkap presidennya, tamatlah riwayat tatanan itu. Ikatan yang susah payah dirajut sejak Piagam Atlantik, kini mengendur. Simpul pengikatnya yaitu AS enggan lagi terikat.

Bayangan dunia yang tidak aman kian nyata. Kedaulatan negara jadi tak ada artinya ketika negara besar bisa berbuat sewenang-wenang. Tindakan Trump di Venezuela mungkin akan mendatangkan keuntungan sumber daya. Tapi ada dampak lain yang lebih mengerikan: hilangnya kepercayaan dalam hubungan antar bangsa. Dan itu, sekali hilang, sulit sekali untuk dikembalikan.


Halaman:

Komentar