Meski begitu, Ikrar ragu kalau pemerintahan Prabowo Subianto terlibat langsung. Spekulasi bahwa teror ini dikendalikan dari lingkaran Sekretaris Kabinet, misalnya, ia anggap terlalu gegabah.
"Kalau ini memang terjadi dan terbongkar oleh BIN, Bais, atau intelijen lainnya, betapa memalukannya. Ini akan menghancurkan kredibilitas pemerintahan Prabowo," katanya.
Namun begitu, ia tak menampik kemungkinan lain. Bisa saja ada pihak ketiga yang sengaja "memancing di air keruh" untuk mengail simpati atau sekadar mencoreng wajah pemerintah.
Baginya, awal 2026 ini adalah penanda dimulainya babak baru pertarungan politik. Di satu sisi ada pemerintahan Prabowo, di sisi lain ada kelompok yang berusaha mengambil alih kekuasaan yang ia kaitkan dengan Joko Widodo.
"Jangan percaya tidak ada persoalan antara dua hopeng Prabowo dan Jokowi. Prabowo ingin keberlanjutan hingga 2029, sementara tekanan politik terhadap keluarga Jokowi semakin keras," paparnya.
Ikrar juga menyentuh isu lama yang tak kunjung usai: kontroversi ijazah. Ia menyoroti keraguan atas keaslian ijazah Jokowi dari UGM. Menurutnya, selama foto di ijazah itu tidak menampilkan wajah Jokowi, maka dokumen tersebut patut dipertanyakan. Verifikasi soal kertas dan cap dari UGM, baginya, belum menjawab semua tanda tanya.
Tak hanya itu, riwayat pendidikan Gibran Rakabuming Raka juga ia pertanyakan. Mulai dari klaim tidak lulus dari SMP Negeri 1 Surakarta, hingga keabsahan ijazah SMA-nya dari sebuah institusi di Singapura. Semuanya, bagi Ikrar, masih membutuhkan kejelasan yang tuntas.
Artikel Terkait
Imigrasi Ngurah Rai Deportasi Pimpinan Sindikat Pencucian Uang yang Masuk Daftar Interpol
Polisi Ungkap Motif Judi Online di Balik Pembunuhan dan Mutilasi Ibu Kandung di Lahat
Ayah di Batam Diduga Setubuhi Anak Kandungnya Sejak Usia 7 Tahun
Roti Maros, Camilan Manis Khas Sulawesi Selatan dengan Isian Selai Srikaya