Suasana Festival Film Sundance di Park City, Utah, tiba-tiba terasa berat. Di balik glamor karpet merah, aktris Olivia Wilde justru menyoroti sebuah tragedi memilikan yang terjadi ribuan kilometer dari sana: penembakan maut oleh agen imigrasi di Minneapolis. "Saya tidak percaya bahwa kita menyaksikan orang-orang dibunuh di jalanan," ujarnya, suaranya terdengar getir.
Ia berbicara tentang Alex Pretti, seorang perawat ICU berusia 37 tahun. Pretti tewas setelah ditahan dan ditembak beberapa kali oleh agen federal. Yang membuatnya semakin tak terbayangkan, ini adalah kematian kedua dalam tiga minggu. Sebelumnya, Renee Good, juga 37 tahun, ditembak di dalam mobilnya di kota yang sama.
"Orang-orang Amerika pemberani ini turun ke jalan untuk memprotes ketidakadilan dari 'petugas' ICE ini, dan menyaksikan mereka dibunuh itu tak terbayangkan. Kita tidak bisa menormalkannya," lanjut Wilde, yang dengan jelas memamerkan lencana "ICE OUT" di bajunya. Baginya, kekerasan terhadap mereka yang menggunakan hak kebebasan berekspresi itu jelas-jelas bertentangan dengan nilai-nilai Amerika.
Ia tak sendirian. Nada kecaman yang sama datang dari Natalie Portman, yang sedang mempromosikan film "The Gallerist". Dengan emosi yang terbaca jelas, Portman menggambarkan situasi saat ini sebagai "hari yang mengerikan".
"Apa yang terjadi di negara kita sungguh menjijikkan," katanya tegas. "Apa yang dilakukan Trump dan Kristi Noem dan ICE terhadap warga negara kita dan orang-orang yang tanpa dokumen adalah keterlaluan. Ini harus diakhiri."
Insiden penembakan yang memicu kemarahan publik ini sendiri masih diselimuti dua versi. Departemen Keamanan Dalam Negeri bersikukuh menyebutnya sebagai tindakan membela diri. Menurut mereka, seorang agen Patroli Perbatasan terpaksa menembak setelah seorang pria mendekat dengan pistol dan melawan saat akan dilucuti.
Namun begitu, cerita itu langsung dipertanyakan. Rekaman video dari saksi mata yang berhasil diverifikasi justru menunjukkan gambaran yang berbeda. Dalam video itu, Alex Pretti terlihat memegang telepon, bukan senjata api. Saat itu, ia tampaknya sedang berusaha menolong para pengunjuk rasa lain yang sudah lebih dulu didorong ke tanah oleh para agen.
Kontras antara dua narasi itu versi resmi pemerintah dan bukti visual dari warga menjadi bahan bakar utama yang memicu demonstrasi besar-besaran. Kecaman pun bergulir dari berbagai penjuru, tak terkecuali dari selebritas Hollywood yang suaranya mampu menggema jauh lebih keras.
Artikel Terkait
Bamsoet: Konflik Global Ancam Stabilitas Nasional, Alumni Lemhannas Harus Jadi Garda Terdepan
Jonatan Christie Kalah Dramatis dari Kunlavut Vitidsarn di Laga Perdana Piala Thomas 2026
PBNU Pastikan Persiapan Muktamar Agustus 2026 Berjalan Sesuai Rencana
SMAN 2 Kerinci Juara LCC Empat Pilar MPR RI Tingkat Provinsi Jambi, Siap Berlaga di Nasional