Ulil Abshar dan Kekerasan Kultural: Ketika Wacana Agama Melegitimasi Perusakan Lingkungan

- Sabtu, 06 Desember 2025 | 17:00 WIB
Ulil Abshar dan Kekerasan Kultural: Ketika Wacana Agama Melegitimasi Perusakan Lingkungan

Roy Murtadho (Aktivis muda NU)

Nah, soal tangkapan layar itu, menurut saya justru keliru. Faktanya, baik Zulhas maupun Raja Juli sudah lama jadi sasaran kritik. Bukan main, kritiknya datang dari para peneliti dan aktivis yang serius. Data lapangan dari kawan-kawan di akar rumput pun sudah banyak beredar.

Bahkan, data JATAM soal tambang sering dijadikan bahan infografis untuk mengkritik pemerintah dan para pendukungnya, termasuk Prabowo. Jadi, anggapan bahwa mereka berdua luput dari kritik? Itu jelas tidak benar.

Lalu, bagaimana dengan posisi Ulil Abshar-Abdalla?

Di sini, perannya lebih bersifat ideologis. Saya ulangi: pernyataan dan posisi politik Ulil berfungsi sebagai "alat ideologis". Fungsinya ya untuk membela, mengukuhkan, dan memberi lampu hijau pada kebijakan-kebijakan yang sebenarnya merusak. Ia melegitimasi kerusakan itu.

Kalau kita pakai kacamata teori segitiga kekerasan, Ulil terlibat dalam apa yang disebut kekerasan kultural. Ini sulit dibantah. Apakah dia turun langsung merusak lingkungan? Mungkin tidak. Tapi pandangan keagamaan dan politik yang dia sodorkan itu justru menegaskan dan membenarkan proses perusakan tersebut. Sudah jelas.

Di sisi lain, ada kebiasaan buruk di kalangan kita, para santri. Yaitu suka menciptakan musuh imajiner. Seolah-olah NU terus diserang oleh kelompok anti-NU, padahal yang dikritik kan cuma orang NU tertentu. Kok tidak ada kader Muhammadiyah yang dapat kritik serupa? Pandangan konspiratif macam begini harus dihentikan kalau kita mau maju.

Nyatanya, internal Muhammadiyah dalam mengkritik dirinya sendiri jauh lebih progresif. PP Muhammadiyah saja didemo oleh warganya sendiri ketika kebijakan soal tambang dirasa bermasalah.

Coba bayangkan jika demo serupa terjadi di depan kantor PBNU. Bisa-bisa dihadang Banser dan dituding sebagai PKI, dianggap su'ul adab, tidak hormat pada kiai. Soalnya, figur kiai sudah terlanjur dipandang hampir mustahil untuk bersalah.

Nah, pola membuat musuh imajiner ini juga dilakukan Ulil belakangan. Dia memframing semua pihak yang tidak setuju ormas mengelola tambang sebagai kelompok "zero mining" dan ekstremis sekular. Ini ngawur dan terasa menjijikkan.

Sudahlah, Mas Wali. Kalau belum paham betul, lebih baik diam. Mendingan fokus menulis buku lagi syukur-syukur bisa terbit di penerbit kredibel seperti Routledge atau Verso. Atau, latihan menulis untuk jurnal internasional yang bereputasi. Jangan mau terus-terusan jadi intelektual medsos, dong.


Catatan: Zulhas dan Raja Juli bukan representasi resmi ormas Muhammadiyah.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar